Daftar Blog Saya

Jumat, 13 Desember 2013

Skinner

BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang
Burrhus Frederic Skinner lahir 20 Maret 1904, di Susquehanna, Pennsylvania, sulung dari pasangan William Skinner dan Grace Mange Burrhus Skinner. Ayahnya adalah seorang pengacara dan politisi berpengaruh, sedangkan ibunya dirumah mengurus kedua anak mereka. Skinner tumbuh di keluarga kelas atas yang nyaman dan bahagia, orang tua Skinner memperaktekan nilai-nilai kesetabilan, kerendahan hati, kejujuran dan kerja keras. Keluarga skinner adalah penganut Kristen.
B.F. Skinner berkebangsaan Amerika dikenal sebagai tokoh behavioris dengan pendekatan model instruksi langsung dan meyakini bahwa perilaku dikontrol melalui proses operant conditioning. Di mana seorang dapat mengontrol tingkah laku organisme melalui pemberian reinforcement yang bijaksana dalam lingkungan relatif besar. Dalam beberapa hal, pelaksanaannya jauh lebih fleksibel daripada conditioning klasik.
Gaya mengajar guru dilakukan dengan beberapa pengantar dari guru secara searah dan dikontrol guru melalui pengulangan dan latihan.

B.     Rumusan Masalah
1.      Bgagaimana Konsep Dasar Skinner
2.      Bagaimana Struktur Kepribadian Teori Behavior Skinner
3.      Bgaimana Dinamika Kepribadian Menurut Skinner
4.      Bagaimana Perkembangan Kepribadian Menurut Skinner

C.    Tujuan dan Manfaat
1.      Mengetahui Konsep Dasar Teori Behavior Menurut Skinner
2.      Mengetahui Struktur Kepribadian Menurut Sekinner
3.      Mnegetahui Dinamika Kepribadian Teori Behavior
4.      Megetahui Perkembangan Kepribadian Menurut Skinner





BAB II
PEMBAHASAN
A.    Biografi Burrhus Frederic Skinners
Burrhus Frederic Skinner lahir 20 Maret 1904, di Susquehanna, Pennsylvania, sulung dari pasangan William Skinner dan Grace Mange Burrhus Skinner. Ayahnya adalah seorang pengacara dan politisi berpengaruh, sedangkan ibunya dirumah mengurus kedua anak mereka. Skinner tumbuh di keluarga kelas atas yang nyaman dan bahagia, orang tua Skinner memperaktekan nilai-nilai kesetabilan, kerendahan hati, kejujuran dan kerja keras. Keluarga skinner adalah penganut Kristen.
Pada tahun 1938, Skinner menerbitkan bukunya yang berjudul The Behavior of Organism. Dalam perkembangan psikologi belajar, ia mengemukakan teori operant conditioning. Buku itu menjadi inspirasi diadakannya konferensi tahunan yang dimulai tahun 1946 dalam masalah “The Experimental an Analysis of Behavior”. Hasil konferensi dimuat dalam jurnal berjudul Journal of the Experimental Behaviors yang disponsori oleh Asosiasi Psikologi di Amerika (Sahakian,1970).
B.F. Skinner berkebangsaan Amerika dikenal sebagai tokoh behavioris dengan pendekatan model instruksi langsung dan meyakini bahwa perilaku dikontrol melalui proses operant conditioning. Di mana seorang dapat mengontrol tingkah laku organisme melalui pemberian reinforcement yang bijaksana dalam lingkungan relatif besar. Dalam beberapa hal, pelaksanaannya jauh lebih fleksibel daripada conditioning klasik.
Gaya mengajar guru dilakukan dengan beberapa pengantar dari guru secara searah dan dikontrol guru melalui pengulangan dan latihan.
Menajemen Kelas menurut Skinner adalah berupa usaha untuk memodifikasi perilaku antara lain dengan proses penguatan yaitu memberi penghargaan pada perilaku yang diinginkan dan tidak memberi imbalan apapun pada perilaku yanag tidak tepat. Operant Conditioning adalah suatu proses perilaku operant ( penguatan positif atau negatif) yang dapat mengakibatkan perilaku tersebut dapat berulang kembali atau menghilang sesuai dengan keinginan.
Skinner membuat eksperimen sebagai berikut :
Dalam laboratorium Skinner memasukkan tikus yang telah dilaparkan dalam kotak yang disebut “skinner box”, yang sudah dilengkapi dengan berbagai peralatan yaitu tombol, alat pemberi makanan, penampung makanan, lampu yangdapat diatur nyalanya, dan lantai yanga dapat dialir listrik. Karena dorongan lapar tikus beruasah keluar untuk mencari makanan. Selam tikus bergerak kesana kemari untuk keluar dari box, tidak sengaja ia menekan tombol, makanan keluar. Secara terjadwal diberikan makanan secara bertahap sesuai peningkatan perilaku yang ditunjukkan si tikus, proses ini disebut shapping.
Berdasarkan berbagai percobaannya pada tikus dan burung merpati Skinner mengatakan bahwa unsur terpenting dalam belajar adalah penguatan. Maksudnya adalah pengetahuan yang terbentuk melalui ikatan stimulus respon akan semakin kuat bila diberi penguatan. Skinner membagi penguatan ini menjadi dua yaitu penguatan positif dan penguatan negatif. Bentuk bentuk penguatan positif berupa hadiah, perilaku, atau penghargaan. Bentuk bentuk penguatan negatif antara lain menunda atau tidak memberi penghargaan, memberikan tugas tambahan atau menunjukkan perilaku tidak senang.
Menurut skinner (1953), ilmu memiliki tiga karakter utama, yaitu:
a.       Ilmu bersifat kumulatif
b.      Ilmu adalah sikap yang lebih menghargai observasi empiris
c.       Ilmu adalah pencarian terhadap tatanan dan kaidah hubungan.

B.     Behavior
Skinner sebagai pelopor behaviorisme menolak semua teori kepribadian. Menurutnya, psikologi belum siap ( belum memiliki data factual yang cukup ) untuk membangun teroti kepribadian yang mencakup segala hal. Dia tidak membahas topik kepribadian secara khusus kecuali sekedar menjadikan label dari aspek tingkah laku tertentu. Sekinner berbeda dengan pakar kepribadian pada umumnya dalam 3 hal :
Pertama sekinner menolak analisis kehidupan internal semacam insting - motif – drives – aktualisasi diri  - superiorita – keamanan, dan secara ekstrim berpendapat psikologi harus membatasi diri hanya menangani data yang dapat di observasi. Satu satunya aspek yang nyata dan relevan dengan psikologi adalah tingkahlaku yang teramati dan satu satunya cara mengontrol dan meramalkan tingkahlaku itu adalah mengaitkannya dengan kejadian yang mengawali tingkah laku yang ada di lingkungan.
Kedua, sekinner tidak tertarik dengan perbedaan individual seperti trait, life style, ego, dan self. Menurutnya, ilmu psikologi harus menemukan hukum umum dari tingkah laku, hubungan empirik antara stimulus dengan respon.
Ketiga pakar psikologi kepribadian mengembangkan teorinya berdasarkan analisis terhadap orang abnormal ( Freud dkk ), atau terhadap orang normal ( Rogers ), atau terhadap orang yang super normal ( Maslaw ) sedangkan sekinner menggunakan hewan  ( tikus dan merpati ) sebagai objek amatannya.



C.    Asumsi Dasar
Sekinner bekerja dengan 3 asumsi dasar, diaman asumsi 1 dan ke 2 menjadi asumsi psikologi pada umumnya, bahkan menjadi asumsi semua pendekatan ilmiah.
1.      Tingkah laku mengikuti hukum tertentu. Ilmu adalah usaha untuk menemukan keteraturan, menunjukan peristiwa tertentu yang berhubungan secara teratur dengan peristiwa lain.
2.      Tingkah laku dapat diramalkan. Ilmu bukan hanya menjelaskan, tetapi juga meramalkan. Bukan hanya menangani peristiwa masa lalu tetapi juga masa yang akan dating.
3.      Tingkah laku juga dapat di control. Ilmu dapat digunakan sebagai antisipasi dan menentukan antisipasi dan menentukan/membentuk ( sedikit/banyaknya ) tingkah laku seseorang. Sekinner bukan hanya ingin tahu bagaimana terjadinya tingkah laku ,tetapi dia sangat berkeinginan untuk memanipulasinya. Pandangan ini bertentangan dengan pandangan teradisional yang menganggap manipulasi sebagai serangan terhadap kebebasan pribadi. Sekinner memandang tingkah laku sebagaiproduk kondisi antesedn tertentu, sedangkan pandangan tradisional berpendapat bahwa tingkah laku merupakan produk perubahan dalam diri secara sepontan.
Skinner menganggap, kemampuan memanipulasi kehidupan dan tingkah laku manusia – keberhasilan mengontrol kejadian atau tingkah laku manusia. Merupakan bukti kenenaran suatu teori. Lebih penting lagi prilaku manusia harus di control karena manusia sekinner yakin manusia telah merusak dunia yang ditinggalnya dnegan menggunakan ilmu dan teknologi dalam memecahkan  masalahnya.
Skinner memahami dan mengontrol tingkah laku memakai teknik analisis fungsional tingkahlaku yaitu : suatu analisis tingkah laku dalam bentuk hubungan sebab akibat, bagaimana atau respon timbul mengikuti stimuli atau kondisi tertentu. Menurut analisis fungsional akan menyingkap bahwa penyebab terjadinya tingkah laku sebagian besar berada di event antesedennya atau berada di lingkungan. Apabila penyebab atau stimulus yang menjadi pristiwa yang mendahului suatu respon dapat dikontrol, itu berarti dapat dilakukan tindak control terhadap suatu respon. Tidak ada gunanya memahami manusia terlepas dari lingkungannya, atau menarik kesimpulan mengenai kesimpulan peristiwa yang terjadi di dalam diri organisme dalam rangka memahami dan mengontrol tingkah laku, karena hubungan antar peristiwa di dalam dengan tingkah laku tidak pernah di dukung oleh data yang objektif.
D.    Struktur Kepribadian
Skinner tidak tertarik dengan variable strktural dari kepribadian. Menurutnya, mungkin dapat di peroleh ilusi yang menjelaskan dan memperediksi tingkah laku berdasarkan faktor-faktor tetap dalam kepribadian, tetapi tingkahlaku hanya dapat diubah dan di control dengan mengubah lingkungan. Jadi sekinner lebih tertarik dengan aspek yang berubah –ubah dari kepribadian alih-alih struktur yang tetap. Unsur kepribadian dipandang relatip tetap adalah tingkah laku itu sendiri. Ada 2 klasifikasi tipe tingkahlaku :
1.      Tingkah laku responden : respon yang dihasilkan organism untuk menjawab stimulus yang secara sepesifik berhubungan dengan respon itu. Respon reflex termasuk dalam kelompok ini, seperti mengeluarkan air liur ketika melihat makanan, mengelak dari pukulan dll.
2.      Tingkah laku operan : respon yang dimunculkan organism tanpa adanya stimulus spesifik yang langsung memaksa terjadinya respon itu. Terjadinya peruses pengikatan stimulus baru dengan respon baru. Organism dihadapkan pada pilihan – pilihan respon mana yang akan di pakai untuk menanggapi suatu stimulu. Keputusan mana yang dipilih tergantung pada efeknya terhadap lingkungan atau konsekuensi yang mengikuti respon itu.
Bagi sekinner, faktor motivasional dalam tingkah laku bukan bgian elemen structural. Dalamsituasi yang sama tingkah laku seseorang dapat berbeda – beda kekuatan dan keseringan munculnya. Namun tidak harus diartikan sebagai akibat dari kekuatan dalam, drive, atau motivasi. Menurut skinner variabelitas intensita tingkah laku itu dapat di kembalikan kepada variable lingkungan. Orang lapar dan bersemangat makan banyak bukan karena dorongan atau drive laparnya besar, tapi karena perutnya kosong lama tidak makan atau kondisi penyebab lainnya. Konsep motivasi yang menjelaskn variabelitas tingkah laku dalam situasi yang konstan bukan fugsi dari keadaan enerji, tujuan, dan jenis penyebab semacamnya.
E.     Dinamika Kepribadian
Kepribadian dan Belajar
Kepribadian utama dari sekinner adalah mengenai perubahan tingkah laku. Jadi hakekat teori sekinner adalah teori belaja, bagaimana individu menjadi memiliki tingkah laku baru, menjadi lebih terampil, menjadi lebih tahu. Kehidupan terus-menerus dihadapkan dengan situasi eksternal yang baru, dan organism harus belajar merespon situasi baru itu memakai respon lama atau memakai respon yang baru di pelajari. Dia yakin bahwa kepribadian dapat di fahami dengan mempertimbangkan perkembangan tingkah laku dalam hubungan yang terus menerus dengan lingkungannya. Cara yang efektif untuk mengubah dan mengontrol tingkah laku adalah dengan melakukan penguata, suatu strategi kegiatan yang membuat tingkahlaku tertentu berpeluang untuk menjadi atau sebaliknya (berpeluang untuk tidak terjadi ) pada masa yang akan dating. Konsep dasarnya bahwa tingkah laku dapat dikontrol oleh konsekuensi (dampak yang mengikuti ) tingkah laku itu. Manusia dan binatang dapat dilatih melakukan semua jenistingkah laku manakala semua jenis tingkah laku mnakala semua konsekuensi atau penguatan yang tersedia di lingkungan dapat di ubah dan di atur sesuai dengan tujuan yang di kehendaki. Setrategi ini bentuk dasarnya ada 2 : kondisioning klasik dan operan.

Kondisioning Klasik
Kondisioning klasik disebut juga kondisioning responden karena tingkah laku dipelajari dengan memanfaatkan hubungan stimulus-respon yang bersifat reflex bawaan. Penelitian mengenai kondisioning klasik pertama-tama dialkukan oleh ivan Pavlov. Suatu stimulus yang memunculkan respon tertentu dioprasikan berpasangan dengan stimulus lain pada saat yang sama unutk memunculkan respon refleks. Pavlov melakukan penelitian pada seekor anjing, dilakukan oprasi kecil dilehernya, untuk memotong saluran air liur dan di sambung ke pipa yang di sambungkan keluar, dengan maksud peneliti dapat meneliti air liur yang di keluarkan anjing. Kedalam mulut anjing di berikan daging ( stimulus )dan secara refleks anjing akan mengeluarkan air liur. Lalu bersamaan dengan daging dibunyikan bel kemudian dan sesudah percobaan dilakukan berulang-ulang. Membunyikan bel tanpa diberi daging direspon dengan mengeluarkan air liur. Terjadi proses kondisioning antara proses stimulus kondisi dengan respon asl, yang sekarang menjadi respon kondisi.
Diagram Kondisioning Klasik pada Anjing ( Pavlov )
Daging disini untuk memperkuat keluarnya air liur manakala berbunyi bel, sehingga disebut penguat positif, yakni setimulus atau penguat yang kehadirannya meningkatkan peluang terjadinya respon yang di kehendaki. Kalau dalam operasi itu dihentikan pemberian daging dan hanya dibunyikan belsaja secara berkelanjutan sehingga air liur tidak akan keluar lagi karena hubungannya semakin lemah sehingga ini disebut dengan pemadaman, yang menunjukan perlunya penguatan.
Kondisioning Operan
Kondisioning operan pertama dikenalkan oleh E.L Thordik. Reinforser tidak diasosiasikan dengan stimulus yang dikondisikan, tetapi di asosiasikan dengan respon karena respon itu sendiri beroprasi member reinformen. Sekinner menyebut itu sebagai tingkah laku operan.
Tingkah laku responden adalah tingkahlaku otomatis atau refleks, yang dalam kondisioning klasik respon itu diusahakan dapat dimunculkan dalam situasi yang lain dengan situasi aslinya. Tingkah laku operan mungkin belum pernah dimiliki individu, tetapi ketika orang melkukannya dia mendapat hadiah. Respons operan itu mendapat reinforsemen, sehingga berpeluang untuk lebih sering terjadi (agar mendapat reinforsemen yang diinginkan). Kondisioning operan tidak tergantung kepada tingkah laku otomatis atau refleks, sehingga jauh lebih fleksibel dibanding kondisioning klasik.
Penelitian kondisioning operan dilakukan Skinner dengan objek burung merpati. Seekor merpati lapar dimasukkan ke dalam kotak Skinner (Skinner box): kotak yang kecil yang kedap, memisahkan merpati dari lingkungan normal dan memungkinkan peneliti mengontrol seluruh veariasi lingkungan, mengontrol dan mencatat event stimulu dan respon yang terjadi. Merpati lapar itu dihadapkan dengan stimulus dinding kotak yang salah satu sisinya ada bintik yang dapat mengeluarkan cahaya merah. Setiap kali merpati mematuk bintik itu, keluar makanan dari lobang di bawah bintik itu.
Untuk membuat merpati mematuk cahaya merah, peneliti perlu membentuk tingkah laku itu karena mematuk cahaya bukan dari tingkah laku normal merpati. Karena itu Skinner mulai dengan memperkuat tingkah laku yang semakin mendekati mematuk cahaya; pertama merpati dilatih makan dari lubang makanan, dan kemudian makanan hanya diberikan kalau merpati berdiri didekat bintik cahaya, dan akhirnya makanan segera diberikan kalau merpati itu mematuk cahaya itu. Sejak itu, merpati semakin sering mematuk cahaya, karena patukan akan mendapatkan hadiah atau reinforsemen makanan.
Mengajar merpati memiliki repertoir tingkah laku baru – mematuk cahaya merah – untuk mendapat makanan, dinamakan pembentukan (shaping) tingkah laku. Teknik yang dipakai dinamakan pendekatan berangsur (seccessive approximation). Tingkah laku yang sudah dimiliki juga dapat dihilangkan atau dipadamkan (extinction). Umumnya eksistensi dikenakan terhadap tingkah laku yang tidak dikehendaki. Cara yang paling efektif untuk melakukan eksistensi adalah dengan menghilangkan penguat tingkah laku yang tidak dikehendaki dengan mengondisikan tingkah laku baru (yang dikehendaki) memakai penguat positif. Repertoir tingkah laku juga dapat dihilangkan dengan memberi hukuman. Ibu memukul (hukuman) anaknya yang membuang pakaiannya sembarangan ke lantai. Mungkin anak itu akan meninggalkan tingkah laku yang tidak dikehendaki itu, tetapi hukuman itu dapat menimbulkan efek samping: misalnya anak itu menghindar dari ibunya setiap pulang sekolah.
Kodisioning pada Manusia : Kasus Little Albert
Penelitian yang dilakukan oleh J.B. Watson dan isterinya Rosalie Rayner Watson, dapat dipakai sebagai contoh bagaimana strategi kondisioning Pavlov kalau diterapkan pada manusia (kasus ini menjadi menarik, karena penelitian semacam hampir tidak mungkin dilaksanakan kembali tanpa resiko dihujat sebagai pelanggaran moral dan hak asasi manusia).

Albert (namaamaran yang diberikan Watson) diasuh sejak bayi di rumah sakit anak-anak dimana ibunya bekerja sebagai perawat. Anak yang “pendiam dan tidak emosional” itu menjadi subjek eksperimen Watson sejak usia 9 bulan sampai 1 tahun. Tujuan eksperimen adalah untuk menunjukkan bahwa respon emosional yang kompleks (eksperimen Albert memusatkan perhatian kepada perasaan takut) dikembangkan organisme mengikuti prinsip kondisioning dari Pavlov.
Diagram Kondisioning Instrumental Pada Merpati ( Sekinner )
Di usia 9 hulan, Albert didudukkan di kursi makan anak-anak, dan Watson berturut-turut menunjukkan kepada anak itu tikus putih, kelinci, anjing, kera, topeng gundul dan topeng gimbal, gulungan benang wol, dan koran yang terbakar. Secara umum Albert yang belum memiliki pengalaman dengan stimuli-stimuli itu, mereaksi dengan perasaan ingin tahu dan ingin    menyentuh objek. Menurut Watson, itu adalah bukti bahwa Albert tidak takut dan “tidak menangis”.
Ketika Albert berusia 11 bulan 3 hari, Watson memulai penelitian kondisioningnya. Dari hasil penelitian yang lalu, ditemukan bahwa suara yang keras dan mendadak misalnya suara batang besi yang dipukul keras-keras akan menimbulkan reaksi takut yang tajam pada hampir semua bayi. Penelitian Pavlov dikenakan kepada Albert: seekor tikus putih didekatkan kepada Albert, dan dia menjulurkan tangan kirinya untuk meraih tiku itu. Pas ketika tangannya menyentuh tikus, dibunyikan dentang batang besi dipukul palu dibelakang kepalanya. Bayi itu meloncat dengan keras sampai jatuh dari kursi dan menyembunyikan mukanya di karpet, walaupun dia tidak menangis. Percobaan dilakukan sekali lagi, sesudah itu setelah satu minggu Albert tidak dikenai tritmen apapun. Sesudah satu minggu, ditunjukkan tikus putih kepada Albert, didekatkan berangsur-angsur tanpa dibarengi suara dentang keras. Dia tidak menangis, tetapi menarik tangannya. Kemudian percobaan menunjukkan tikus dibarengi suara dentang itu dilakukan beberapa kali, sampai akhirnya Albert menjadi menangis, menarik tubuhnya menjauh dari tikus, dan menutup mukanya sambil terisak. Berikutnya menunjukkan tikus saja (tanpa suara keras) sudah cukup membuat Albert ketakutan.
Satu minggu kemudian kepada Albert ditunjukkan berbagai objek baru seperti kelinci putih, anjing, gulungan benang wol putih, bahkan Watson juga memakai rambut putihnya yang diturunkannya dihadapan wajah Albert. Secara umum ternyata Albert menggeneralisir respon takut dan menarik diri kepada semua stimuli itu, karena semua mempunyai persamaan dengan tikus putih. Ada perbedaan tingkat reaksi takut, anjing misalnya hanya sedikit memberi rasa takut,. Namun kesimpulan penelitian ini sangat jelas; Albert mempelajari respon emosi takut sebagai reaksi generalisasi dari kondisioning klasik.
Watson dan Reyner mencatat secara teliti reaksi Albert, memperlama istirahat antar sesi penelitian. Pada usia 1 tahun 21 hari, yang berarti tenggang dengan sesi terakhir lamanya 31 hari, Watson dan Reyner menunjukkan kepada Albert topeng Santa Claus, mantel bulu, dan tikus putih. Rasa takut sudah berkurang tetapi reaksi takut dan menarik diri masih terdeteksi. Watson juga mencatat Albert cenderung melkukan “kompensasi penghambat” (compensatory blocking) dengan mengisap ibu jarinya sepanjang masa perlakuan yang sangat menekan. Albert berhasil menghambat ekspresi rasa takutnya dengan menghisap ibu jarinya, sampai-sampai Watson memaksa menarik ibu jari itu dari mulut Albert untuk memperoleh respon takut yang dikondisikan. Dari penelitian ini, Watson menyimpulkan dua hal, yaitu:
a.       Freud salah mengenai dorongan seks sebagai motif primer. Menurut Watson, kedudukan seks sama dengan takut dalam pembentukan kepribadian, sama-sama diperoleh daro kondisioning.
b.      Gangguan fobia (ketakuatan yang sangat dan irasional mengenai objek – tempat - orang), dapat dijelaskan melalui prinsip-prinsip kondisioning, tanpa menyentuh jargon ketidaksadaran asosiasi, keinginan atau konflik. Ketakuatn Albert terhadap barng yang putih dan lembut, dapat dijelaskan dengan mudah kalau riwayat belajarnya diketahui.

Pengaturan Penguatan (Schedules Reinforcement)
Reinforsemen bisa bersifat positif, bisa negatif. Penguat positif adalah peristiwa atau sesuatu yang membuat tingkah laku yang dikehendaki berpeluang untuk diulangi – terjadi lagi. Sebagai suatu stimulus, penguat positif disenangi sehingga organisme berusaha agar stimulus itu muncul. Sebaliknya, penguat negatif adalah peristiwa atau sesuatu yang membuat tingkah laku yang dikehendaki, peluang tingkah laku itu untuk diulang lebih kecil. Sebagai suatu stimulus, penguat negatif tidak disenangi sehingga organisme berusaha menghindar atau membuat stimulus itu tidak timbul.
Hadiah atau hukuman tidak selalu identik dengan reinforemen positif atau negatif. Hadiah adalah akibat dari tingkah laku, sedangkan reinforsemen positif adalah peristiwa yang menyebabkan tingkah laku (yang mendapat reinforsemen) bakal terjadi lagi. Hadiah bisa menyebabkan yingkah laku yang dihadiahi itu lebih sering terjadi, dalam hal ini hadiah juga berperan sebagai reinfoesemen positif. Misalnya, anak yang berhasil menjadi juara melukis mendapat hadiah seperangkat cat minyak, yang membuatnya lebih giat berlatih melukis. Kalau hadiah yang diberikan tidak memberi dmapak apapun terhadap tingkah laku melukis, itu bukan reinforsemen. Kalau hadiah yang diberikan tidak memberi dampak apapunterhadap tingkah laku melukis, itu bukan reinforsemen. Bisa terjadi, hadiah dalam wujud permainan elektronik (play-station) malahan membuat anak lupa waktu dan tidak lagi tertarik untuk mengasah kemampuan melukisnya, itu berarti hadiah menjadi penguat negatif.
Dalam memanipulasi tingkah laku, yang penting bukan hanya wujud dari reinforsemennya tetapi juga bagaimana pengaturan pemberiannya. Reinforsemen yang diadministrasi dengan cermat memungkinkan kita untuk membentuk tingkah laku. Skedul pemberian penguatan disarikan pada tabel 18.
1.      Penguatan berkelanjutan (continous reinforcement): setiap kali muncul tingkah laku yang dikehendaki diberikan reinforsemen. Kalau reinforsemen dihentikan,tingkah laku yang dikehendaki itu dengan cepat mengalami ekstinsi dan hilang. Pemberian penguat dapat diatur, tidak kontinyu tetapi selang-seling, berselang berdasarkan waktu (interval) atau berdasarkan perbandingan (ratio).
2.      Interval tetap (fixed interval) adalah pemberian reinforsemen berselang teratur, misalnya setiap 5 menit. Patuka pada menit yang kelima baru mendapat makanan. Akibatnya, merpati lama-lama enggan mematuk sesudah mendapat makanan, dan baru mematuk sesudah mendekati waktu 5 menit.
3.      Interval berubah (variable interval), memberi reinforsemen dalam waktu yang tidak tentu, tetapi jumlah atau rata-rata penguat yang diberikan sama dengan pengaturan tetap. Misalnya, pemberian berselang 3, 4, 5, 6, dan 7 menit berselang-seling secara acak, dengan rata-rata selang 5 menit. Pemdaman pada interval berubah lebih lambat dibanding pada interval tetap.
4.      Perbandingan tetap (fixed ratio), mengatur pemberian reinforsemen sesudah respon yang dihendaki muncul yang kesekian kalinya. Merpati mendapat makanan pada (usaha) patukan yang kesepuluh, atau ke duabelas, dan seterusnya.
5.      Perbanding berubah (varible ratio), memberikan reinforsemen secara acak sesudah 8, 9, 10, 11, 12, kali patukan, dengan rata-rata sama dengan fixed ratio. Ekstinsi pada rasio, terutama rasio variabel paling lambat terjadi.
Penting untuk dicatat bahwa tingkah laku yang tiak dikehendaki dapat diperkuat tanpa sengaja: kuncinya pada kesatuan atau keterdekatan reinforsemen dan bukan pada maksed pemberi reinforsemen. Misalnya, siswa taman kanak-kanak yang setiap kali gurtunya datang dia menangis dan baru diam kalau gurunya memeluknya dengan kasih sayang. Tanpa sengaja guru itu memperkuat (dalam bentuk pelukan kasih sayang) anak untuk menangis setiap dia datang. Masalahnya bukan tingkah laku memeluk, tetapi waktunya tidak tepat.

Skedul Reinforsemen

 



Vixed Ratio

Vasible Interval
Fixed Interval

Reinforcement
Internal
Continous Reinforcement
Penguat Berkelanjutan
Internal Reinforcement
Penguat Berselang-Seling



Variable Ratio
Ratio

Reinforsemen yang langsung bisa dinikmati untuk memenuhi kebutuhan, disebut penguat primer (primary reinforcer atau unconditioned reinforcer), misalnya makanan dan minuman. Umumnya mengkondisi respon dengan reinforser makanan atau minuman semacam itu mudah dilakukan. Namun menurut Skinner hanya sedikit tingkah laku manusia yang berhubungan dengan reinforser makanan dan minuman, umumnya tingkah laku manusia berhubungan dengan penguat sekunder (secondary reinforer atau conditioned reinforcer), seperti uang dan kehormatan.
Perkuatan bersyarat (contingency reinforement): strategi ini dikembangkan oleh Premack, D., sehingga dikenal dengan nama Premack Principle, yakni mengatur agar tingkah laku yang tidak menyenangkan dipakai sebagai syarat agar anak boleh mengerjakan tingkah laku yang menyenangkan. “kerjaan dulu pekerjaan rumahmu, baru nonton televisi”. Strategi ini sangat efektif, terutaa kalau perhatian anak sangat terfokus  pada kegiatan tertentu, karena kegiatan itu dapat menjadi reinforsemen yang kuat.
Generalisasi dan Diskriminasi
Generalisasi stimulus (stimulus generalization) adalah proses timbulnya respon dari stimulus yang mirip dengan stimulus yang semestinya menimbulkan respon itu. Sedang diskriminasi stimulus (stimulus discrimination) adalah kemampuan untuk membedakan stimulus, sehingga stimulus itu tidak diberi respon, walaupun mirip dengan stimulus yang diberi penguat. Generalisasi dan diskriminasi sangat penting sebagai sarana belajar, karena kalau keduanya tidak ada, orang tidak dapat belajar sama sekali. Kita selalu belajar ari permulaan, dan kita terus menerus akan belajar tingkah laku baru kalau tidak ada generalisasi, kerana tidak ada orang yang dapat berada dalam situasi yang sama persis dan melakukan respon yang sama persis pula. Sebaliknya kalau kita tidak dapat mendiskriminasi situasi, kita akan membuat respon yang sama terhadap situasi respon yang berbeda, sehingga tingkah laku kita menjadi kacau.
Tingkah Laku Kontrol Diri
Prinsip dasar pendekatan Skinner adalah: tingkah laku disebabkan dan dipengaruhi oleh variabel eksternal. Tidak ada sesuatu didalam diri manusia, tidak ada bentuk kegiatan internal, yang mempengaruhi tingkah laku. Namun, betapapun kuatnya stimulus dan penguat eksternal, manusia masih dapat mengubahnya memakai proses kontrol diri (self-control). Pengertian kontrol diri ini bukan mengontrol kekuatan di dalam “self ”, tetapi bagaiman self mengontrol variabel-variabel luar yang menentukan tingkah laku. Tingkah laku tetap ditentukan oleh variabel luar, namun dengan berbagai cara kontrol diri berikut, pengaruh variabel itu dapat diperbaiki – diatur atau dikontrol:
a.      Memindah / Menghindar (Removing / Avoiding)
Menghindar dari situasi pengaruh, atau menjauhkan situasi pengaruh sehingga tidak lagi diterima sebagai stimulus. Pengaruh teman sebaya yang jahat dihilangkan dengan menghindar atau menjauh dari pergaulan dengan mereka. Orang yang diet, membuang semua manisan sehingga tidak merangsang dirinya (untuk menyantapnya).
b.      Penjenuhan (Satiation)
Membuat diri jenuh dengan suatu tingkah laku, sehingga tidak lagi bersedia melakukannya. Seorang perokok menghisap rokok secara terus menerus secara berlebihan, sampai akhirnya menjadi jenuh, sigaret dan pematik api tidak lagi merangsangnya untuk menghisap rokok.
c.       Stimuli Yang Tidak Disukai (Aversive Stimuli)
Menciptakan stimulus yang tidak menyenangkan yang ditimbulkan bersamaan dengan stimulus yang ingin dikontrol. Pemabuk yang ingin menghindari alkohol atau orang yang melakukan diet, mengumumkan keinginannya kepada teman disekitarnya. Setiap kali dia minum alkohol (atau ngemil) dia akan menanggung resiko dikritik lingkungan dan malu karena kegagalannya.
d.      Memperkuat Diri (Reinforce Oneself)
Memberi reinforsemen kepada diri sendiri, terhadap “prestasi”dirinya. Janji untuk membeli celana baru atau nonton film (dengan uang tabungan sendiri) kalau ternyata dapat belajar dan berprestasi. Kebalikan dari memperkuat diri adalah menghukum diri (self punishment) bisa berujud mengunci diri dalam kamar samapai memukulkan kepala ke dinding berulang kali.
Tingkahlaku Takhayul ( Superstitious Behavior )
Suatu respon dapat berhubungan dengan penguatnya secara kebetulan tanpa menunjukkan hubungan sebab akibat yang jelas. Walaupun respon itu tidak nyata-nyata menghasilkan reinforsemen yang dimaksud, ternyata hubungannya sangat kuat. Tingkahlaku seperti ini disebut superstitious behavior. Misalnya pada eksperimen merpati bisa terjadi merpati itu berputar ke tengah kotak sebelum mematuk cahaya. Kalau tingkahlaku itu mendapat penguatan, bisa jadi merpati itu menganggap tingkahlaku berputar di tengah kotak menjadi syarat agar mematuk cahaya bisa mendapat makanan. Tingkahlaku takhayul banyak ditemui pada masyarakat primitif, tetapi ada juga ada pada masyarakat modern.Penduduk primitif menari untuk meminta hujan ( mereka percaya ritual menari mendatangkan hhujan, dan ternyata kebetulan sesekali terjadi hujan sesudah upacara menari ). Atlet tenis bersikeras memakai raket yang membuatnya menang, atau artis yang selalu memakai kaus kaki tua karena kaus kaki itu dianggapnya membawa keberuntungan.
F.     Perkembangan Kepribadian
Konsep perkembangan kepribadian dalam pengertian menuju kemasakan, realisasi diri, transedensi dan unitas kepribadian tidak diterima skinner. Memang ada kemasan fisik, yang  membuat prang menjadi berubah, lebih peka dalam menerima stimulus dan lebih tangkas dan tanggap dalam merespon. Urutan kemasakan fungsi fisik yang sifatnya universal sesungguhnya memungkinkan penyusunan periodisasi perkembangan kepribadian, namun tidak dilakukan skinner karena dia memandang pengaruh eksternal lebih dominan dalam membentuk tingkah laku. Adolesen menjadi berminat mengenai seksualitas bukan karena perkembangan kepribadiannya sampai pada tahap kemasakan insting seks yang meruah, tetapi karena kemasakan organ seks membuat adolesen peka dengan stimulasi seksual, lingkungan, dan lingkungan sosial memberi kesempatan kepadanya untuk menerima stimlus seks sebanyak-banyaknya.
Peran lingkungan yang dominan dalam perkembangan organisme, digambarkan secara ekstrim oleh Watson sebagai pakar behavioris :
Tingkah Laku Sosial
Menurut Skinner, prinsip yang menentukan peerkembangan tingksh lsku di lingkungan objek inanimate dan lingkungan sosial, sama saja. Individu berinteraksi dengan lingkungannya, menerima reinforsement positif atau negatis dari  tingkah lakunya. Respon sosial dan penguatnya terkadang sukar diidentifikasi dibanding yang  nonsosial, tetapi prinsipnya hukum dasar tingkahlaku berlaku sama untuk kedua kasus itu. Tingkah laku sosial tidak dibahas dari ciri kepribadian atau cara khas seseorang bertingkah laku. Bagi Skinner, gambaran ciri kepribadian itu dapat diterjemahkan dalam sekelompok respon spesifik yanh cenderung diasosiasikan dengan situasi tertentu.
Ketuaan
Menjadi tua menimbukkan perubahan tingkah laku, tetapi menurut Skinner bukan berkembang, karena perkembangan adalah mengungkap struktur laten, menyadari potensi dalam, atau menjadi lebih efektif, sedang menjadi tua biasanya berkembang menjadi kurang efektif. Peribahan biologik akibat ketuaan tidak dapat ditolak, sehingga yang diperlukan adalah mengkompensasinya agar tingkah lakumya lebih efisien. Menurut Skinner usia tua bukan kekurangan motivasi tetapi kekurangan reinforsemen karena lingkungan yang berubah.
G.    APLIKASI
Tingkahlaku Abnormal
Skinner berpendapat bahwa tingkahlaku abnormal berkembang dengan prinsip yang sama dengan perkembangan tingkah laku normal. Karena itu  menurutnya tingkah laku abnormal dapat diganti dengan tingkah laku normal dengan cara sederhana, yakni dengan memanipulasi lingkungan. Konsep impuls id yang tertekan, inferiority complexes, anxiety, ego defence, krisis identitas, konflik ego-superego, adalah penjelasan yang menghayal. Krisi tingkah laku itu adalah kegagalan belajar membuat seperangkat respon yang tepat. Kegagalan belajar itu dapat berupa :
1.      Kekurangan tingkah laku ( behavior deficit ), tidak memiliki repertoir respon yang dikehendaki karena miskin reinforsemen.
2.      Kesalahan penguatan ( schedule reinforcement error ), pilihan responnya tepat, tetapi reinforsement diterima secara tidakbenar sehingga organisme cenderung memakai respon yang tidak dikehendaki.
3.      Kesalahan memahami stimulus ( failure in discriminating stimulus ), sering terjadi pada penderita skizoprenik dan psikotik. Lainnya, yakni orang gagal memilah tanda-tanda yang ada pada stimulus, sehingga stimulus yang benar dihubungkan dengan hukuman dan yang salah malahan dihubungkan dengan reinforsemen. Akibatnya akan terjadi pembentukan tingkahlaku yang tidak dikehendaki.
4.      Merespon secara salah ( inapropiate set of response ), terkai dengan ketidakmampuan mengenali penanda spesifik suatu stimulus, orang akhirnya mengembangkan respon yang salah karena justru respon  itu yang mendapat reinforsemen.
Dapat disimpulkan bahwa tingkah laku abnormal harus difahami melalui sejarah reinforsemen yang diterima seseorang. Tingkah laku abnormal itu dapat diganti dengan cara sederhana, yakni dengan memanipulasi reinforsemen lingkungan, mengikuti kondisioning operan dan kondisioning responden.
Modifikasi Tingkahlaku
Banyak pakar psikologi kepribadian yang menganggap teori behaviorisme sudah menjadi masa lalu, dan akan semakin mengalami ekstinsi. Pendapat itu bisa benar juga bisa salah, namun dalam ranah bterapi, behaviorisme masih tetapiu berkembang luas dalam bentuk modifikasi tingkah laku ( behavior modification ). B-mod (sebutan utnuk behavior modification ) adalah senjata stratego untuk mengubah tingksh lsku bermasslah. Akhir – akhir ini muncul publikasi dictionary of Behavior Therapy Techniques yang memuat 158 prosedur. Teknik-teknik  modifikasi itu dipakai oleh beberapa pakar behaviorisme dengan beberapa spesifikasi. Beberapa teknik berikut dikemukanan oleh Skinner, tetapi mungkin juga dikembangkan dari ide para pakar lain, atau dsi sempurnakan oleh pakar lain.
Pembanjiran
Membanjiri klien dengan situasi atau penyebab yang menimbulkan kecemasan atau tingkah laku yang tidak dikehendski, bertahan disana sampai yang bersangkutan menyadari bahwa malapetaka yang dicemaskannya tidak terjadi.
Terapi aversi
Pada kontrol diri, aversi ini dilakukan oleh individu sendiri, sedang pada terapi aversi pengaturan kondisi aversi diciptakan oleh terapis,
Pemberian hadiah/hukumanb secara selektif
Strategi terapi ini untuk memperbaiki tingklahlaku anak dengan melibatkan figur sekeliling anak itu sehri-hari,  khususnya orang tua dan guru.
Latihan keterampilan sosial
Banyak dipakai untuk membantu penderita depresi. Teori depresi  yang popuker memandang depresi sebagai akibat dari perasaan tidak mendapat hadiah ( perhaian ) yang memadai dari lingkungan, mungkin karena tidak memiliki keterampilan untuk memperoleshnya.
Kartu Berharga
Teknik yang didasarkan pada prinsip kondisioning operan, didesain untuk mengubah tingkah laku klien. Intervensi ini bisa dipakai untuk mendidik anak di rumah dan di skeolah, khususnya untuk anak yang lambat belajar, autistik dan delinkuen.


Efek Obat-obatan terhadap Tingkah laku
Skinner box merupakan alat isolasi yang efisen, sehingga alat ini pas untuk meneliti pengaruh farmakologi terhadap tingkah laku.  Gambaran efek obat itu sangat kompleks karena efeknya berbeda pada tingkah laku dosis yang berlainan. Pada dosis yang ringan efeknya justru meningkatkan respon.

H.    EVALUASI
Karya Skinner berbeda dengan norma dan riset psikologi kontemporer. Pertama, Skinner memusatkan perhatiannya pada event tingkah laku yang sederhana, kedua, dia menghendaki kondisi eksperimental dapat dikontrol dan respon subyek dicatat secara otomatis. Ketiga, dia berusaha meneliti secara intensif satu subyek individual alih-alih meneliti sekelompok subyek. Penelitian terhadap sejumlah besar subyek tidak terlalu peduli dengan variabel tak terkontrol, sepanjang variabel itu terdistribusi secara random. Bagi skinner, seperti variabel lainnya variabel tak terkontrol harus diteliti dengan cermat.
B.F. Skinner dengan pandangannya yang radikal, banyak salah dimengerti dan mendapat kritik yang tidak  proporsional. Berbagi ide-fikirannya dikembangkan orang dalam bentuk yang lebih halus ternyata diterima luas.













BAB III
PENUTUP
A.    Kesimpulan
Skinner sebagai pelopor behaviorisme menolak semua teori kepribadian. Menurutnya, psikologi belum siap ( belum memiliki data factual yang cukup ) untuk membangun teroti kepribadian yang mencakup segala hal          
Skinner menolak analisis kehidupan internal semacam insting - motif – drives – aktualisasi diri  - superiorita – keamanan, dan secara ekstrim berpendapat psikologi harus membatasi diri hanya menangani data yang dapat di observasi.       
Skinner tidak tertarik dengan perbedaan individual seperti trait, life style, ego, dan self. Menurutnya, ilmu psikologi harus menemukan hukum umum dari tingkah laku, hubungan empirik antara stimulus dengan respon.
Pakar psikologi kepribadian mengembangkan teorinya berdasarkan analisis terhadap orang abnormal ( Freud dkk ), atau terhadap orang normal ( Rogers ), atau terhadap orang yang super normal ( Maslaw ) sedangkan sekinner menggunakan hewan  ( tikus dan merpati ) sebagai objek amatannya.

B.     Saran
Demikianlah makalah berjudul “ Skinner ” ini kami buat berdasarkan sumber-sumber yang ada. kami juga menyadari, masih ada banyak kekurangan di dalam penulisan makalah ini. Sehingga perlulah bagi kami, dari para pembaca untuk memberikan saran yang membantu supaya makalah ini mendekati lebih baik. Atas perhatiannya, kami ucapkan terima kasih.










DAFTAR PUSTAKA

Ø  Psikologi Kepribadian, Alwisol

Ø  Theories of Personality

Tidak ada komentar:

Posting Komentar