Daftar Blog Saya

Selasa, 26 Juni 2012

manfaatkan komik, anak pun berkembang


BAB 1
PENDAHULUAN

A.   Latar Belakang
Komik  adalah bacaan yang sangat popular. Banyak anak menyukai jenis bacaan ini. Mengapa anak menyukai komik bukanlah suatu pertanyaan yang sulit dijawab. Bagi anak komik sangat menarik karena penuh dengan gambar. Hal ini membuat komik menjadi begitu mudah untuk dipahami, bahkan oleh anak yang belum fasih membaca. Perpaduan banyak gambar dengan sedikit teks pada komik juga membuat anak tidak perlu mengerahkan daya konsentrasi tinggi untuk memahami isi ceritanya. Anak-anak bisa merasa rileks ketika menikmati ulah tokoh-tokoh dalam komik.
Begitu gemarnya anak dengan komik bahkan ada yang sampai kecanduan. Setiap ada kesempatan dihabiskan untuk membaca komik. Jika sudah membaca, mereka sulit dialihkan kegiatannya. Banyak aktivitas tertunda. Mereka jadi malas mandi, malas makan, malas mengerjakan tugas rumah, malas belajar, dst. Hal ini tentu saja menimbulkan masalah. Anak jadi kurang bisa mengendalikan diri. Sering pula terjadi, anak jadi meniru semua kebiasaan si tokoh dalam komik. Jika yang ditiru adalah kebiasaan baik, maka tidak ada masalah. Namun berbeda jika anak menjadi meniru kebiasaan buruk.
Di sisi lain, sebenarnya komik juga memiliki dampak yang positif. Dengan membaca komik, anak dapat berkembang imajinasinya. Selain itu, menurut Hurlock (1978), komik dapat memberikan model yang dapat digunakan untuk mengembangkan kepribadian anak.
Menyikapi pro kontra dampak komik di atas, ada beberapa hal yang sekiranya dapat dipertimbangkan untuk dilakukan oleh orang tua. Pertama, dampingi dan tumbuhkan sikap kritis pada anak ketika mereka membaca komik. Buka diskusi dengan akan mengenai isi cerita dalam komik yang dibacanya. Tanyakan kepada anak siapa tokoh yang disukai atau tidak disukai dan mengapa ia menyukai atau tidak menyukainya. Ajak pula anak untuk menilai dan mengkritik hal-hal yang relevan dengan kehidupan nyata. Misalnya mana yang baik dan buruk, mana yang layak ditiru dan mana yang tidak, dst.
Kedua, pilih komik yang sesuai dengan usia dan tingkat perkembangan anak dan berikan komik dengan tema cerita yang bervariasi. Variasi tema ini dapat memberikan tambahan wawasan pengalaman yang beragam bagi anak.
Ketiga, seimbangkan antara kebutuhan berkebiatan pasif dan aktif. Membaca komik adalah jenia kegiatan pasif yang membuat anak tidak banyak bergerak, sedangkan kegiatan aktif adalah jenis kegiatan yang banyak menggerakkan tubuh. Kegiatan aktif akan mengembangkan kemampuan psikomotorik anak, sedangkan kebiasan membaca yang pasif ini lebih banyak menstimulasi kognisi intelektual anak. Maka agar psikomotorik maupun kognisinya berkembang, anak perlu dibiasakan untuk melakukan kedua jenis kegiatan tersebut secara seimbang.
B.   Rumusan Masalah
·         Bagaimana eksistensi komik bagi pelajar?
·         Bagaimana tips memilih komik yang baik buat anak?
·         Apa saja manfaat membaca komik untuk anak?

C.   Tujuan
·         Tahu akan eksistensi komik bagi pelajar
·         Tahu tips memilih komik yang baik buat anak
·         Tahu manfaat membaca komik untuk anak
BAB 2
LANDASAN TOERI

Hingga saat ini di mata sebagian besar orang tua, para pendidik, serta kaum moralis kita, jenis bacaan berbentuk komik tampaknya masih dianggap sebangun dengan buku-buku roman picisan; sebuah bacaan yang dinilai lebih banyak mendatangkan madarat tinimbang manfaat. Oleh karenanya, tidak heran jika kebanyakan mereka bukan hanya akan menunjukan sikap yang kurang bersahabat terhadap jenis bacaan ini. Mereka akan berupaya sekuat daya menjauhkannya dari jangkauan anak-anaknya atau peserta didiknya.
Di lingkungan keluarga misalnya, banyak orang tua yang akan menghardik anak-anaknya yang ketahuan membaca, apalagi sampai menjadi kolektor bacaan komik. Sedangkan di lingkungan sekolah banyak para guru tak segan-segan akan melakukan perampasan terhadap siswanya yang kedapatan membawa jenis bacaan ini ke sekolah.
Mengenai bagaimana perlakuan protektif sekolah terhadap bacaan komik, ada cerita yang cukup tragik seperti ini. Seorang rekan penulis yang bertugas di salah satu SLTP di Bandung mengatakan bahwa salah satu cara untuk menseterilkan lingkungan sekolah tempat dia bertugas dari jenis bacaan cerita bergambar ini, Kepala Sekolahnya kerap menugasi para guru untuk melakukan razia tas sekolah para siswa. Mereka yang ketahuan membawa buku komik, selain bukunya disita juga orang tua siswa tersebut akan dipanggil pihak sekolah untuk diberikan peringatan.
Menurut Marcel Bonneff (1998), seorang peneliti komik Indonesia asal Perancis, sejak pertama kemunculannya komik memang telah menjadi sasaran kritik dan tundingan para orang tua serta ahli-ahli pendidikan. Salah satu alasannya, karena komik dianggap sebagai jenis bacaan yang tidak memberikan nilai-nilai pendidikan serta gagasan-gagasan yang ada di dalamnya dianggap dapat membahayakan perkembangan para pembacanya. Selain itu bacaan komik juga kerap dituduh mengganggu kegiatan belajar anak-anak.
Selain alasan-alasan di atas, karakteristik komik yang lebih banyak didominasi oleh unsur visual (gambar) tinimbang unsur teks naratif, sehingga dinilai sebagai bacaan yang kurang memberi tantangan pada pengembangan daya imajinasi/fantasi kepada para pembacanya yang kebanyakan anak-anak-- juga dijadikan hujah oleh mereka yang bersikap protektif terhadapnya. Begitu pula tindakan yang digambarkan dalam sebagian komik yang menampilkan adegan-adegan agresif (keras dan brutal), bahkan tidak jarang mempertontonkan hal-hal yang porno atau tabu -- sehingga kerap menyertakan ragam bahasa yang naif dan kotor (seperti sumpah-serapah, makian, hujatan atau kata-kata keji lainnya) -- menurut mereka dianggap potensial merangsang anak untuk menirunya. Sebagai catatan, atas dasar asumsi semua jalan ceritanya dianggap “baik”, di masa lalu semua buku komik harus mendapatkan rekomendasi dari pihak Seksi Bina Budaya POLRI. Keterangan rekomendasi tersebut umumnya dicantumkan pada bagian sampul dalam atau pada salah satu gambarnya.
Fenomena persepsi negatif dan sikap memusuhi komik yang dilakukan oleh para orang tua dan para pendidik kita sebenarnya bukan hanya terjadi di negara kita saja. Menurut Marcel Bonneff, antara tahun 1950-an hingga 1960-an di Perancis sendiri –sebuah negara yang saat ini telah menjadi kiblat perkomikan dunia-- fenomena semacam itu pernah menggenjala. Dan baru sekitar tahun 1970-an setelah sejumlah lembaga, seperti Societe d’ Etude et de Recherches des Litteratures dessinees (Masyarakat Pengkaji dan Peneliti Sastra Bergambar) melakukan berbagai kegiatan yang bertujuan membela keberadaannya serta beberapa pihak universitas menyelenggarakan kuliah “Sejarah dan Estetika Komik”, keberadaan komik mendapat tempat yang layak, baik di lingkungan para akademisi maupun masyarakat Perancis pada umumnya..
Gambaran buruk terhadap pengaruh bacaan komik tentu saja tidak semuanya disepakati oleh para pakar. Cukup banyak di antaranya yang menilai komik bukan merupakan bacaan yang membahayakan sehingga harus dijauhkan dari anak-anak. Seperti dinyatakan oleh psikolog Heny Supolo Sitepu (Media Indonesia, 24 Januari 1998), komik tidak berbahaya dan tidak merusak minat baca anak-anak. Bahkan sebaliknya, menurutnya komik dapat memperkaya kecerdasan visual serta mengembangkan daya imajinasi mereka. Heny memberikan ilustrasi, ketika seorang anak tengah membaca komik dia tidak hanya melihat gambaran visualnya atau teksnya saja, tetapi juga dia memperhatikan detil gambarnya. Misalnya bagaimana karakter dan mimik dari para tokohnya, latar belakang gambar dan jalan ceritanya dan seterusnya.. Hal-hal tersebut, menurut Heny, dapat memperkaya pengetahuan dan mendorong anak-anak belajar mencocokan antara latar belakang dengan kejadian yang dipaparkan dalam cerita.
Pendapat senada Heny juga dikemukakan oleh Rahayu S.Hidayat, ketua Lembaga Kajian Komik Indonesia. (Media Indonesia, 24 Januari 1998). Menurut salah seorang staf pengajar pada Fakultas Sastra UI ini, walau bagaimanapun komik, karena keunggulan visualnya serta tokoh-tokohnya cenderung menghibur, merupakan dunia yang lekat dengan anak-anak. Sejauh diperlakukan dalam batas-batas yang wajar, komik sebenarnya cukup positif dalam menumbuhkan minat membaca pada anak-anak, khususnya pada anak-anak yang belum dapat membaca huruf atau usia pra sekolah.
Begitu pula pendapat Seto Mulyadi (Femina No.29/XXIII 27 Juli-2 Agustus 1995). Menurutnya, bagi anak-anak yang belum dapat membaca di mana pada umumnya imajinasi mereka masih sangat terbatas, bacaan komik akan dapat membantu memvisualisasikan imajinasi mereka itu. Kak Seto juga menambahkan bagi anak-anak usia belajar dan tengah dalam perkembangan mental dan intelegensia serta kreativitasnya, membaca komik, seperti halnya menonton televisi, jika dilakukan dengan kadar secukupnya dan dengan fungsi sekedar untuk hiburan atau syukur jika untuk memperoleh informasi, sesungguhnya tidak usah begitu dikhawatirkan. Meskipun demikian psikolog yang dikenal dekat dengan dunia anak ini buru-buru menambahkan bahwa sebaiknya begitu anak dianggap lancar membaca, orang tua sebaiknya mulai memperkenalkan mereka pada buku teks (termasuk buku cerita), kemudian perlahan-lahan mulai ‘menyapih’-nya dari buku-buku bergambar atau komik.
Mengenai bahasa yang digunakan dalam komik, Marcel Bonneff memberi catatan bahwa sesungguhnya bahasa komik sangat bervariasi dan kaya, karena memiliki sejumlah fungsi khas yang tidak terdapat dalam jenis bacaan non-komik. Pertama, fungsi bahasa unntuk memberikan komentar lakuan (action). Kedua, fungsi bahasa dalam dialog yang repliknya ditempatkan dalam balon (atau di samping), yang mengungkapkan sekaligus monolog batin. Ketiga fungsi bahasa untuk mengungkapkan perasaan (interjection), yang juga ditaruh dalam balon yang terkadang seperti gelembung meledak. Kemudian keempat fungsi bunyi-bunyian. Dengan demikian dengan membaca komik secara tidak disadari anak akan dikenalkan dengan aneka fungsi bahasa atau bentuk-bentuk kalimat (kalimat langsung-tidak langsung, kalimat berita, kalimat tanya dan sejenisnya).
Selain sebagai alat penyebaran bahasa Indonesia Bahasa Indonesia komik mempunyai peranan yang positif dalam mengembangkan kebiasaan membaca. Bahkan ujar Bonneff, bagi anak-anak yang putus sekolah, komik merupakan wahana utama untuk tetap berhubungan dengan bahasa tulis. Berdasarkan hal-hal yang disebutkan tersebut peneliti komik ini merekomendasikan bahwasanya buku- buku bacaan komik bukan hanya baik untuk dibaca oleh anak-anak pra sekolah tetapi juga dapat menjadi salah satu media pengajaran yang efektif yang dapat digunakan oleh para guru bahasa.
Dari uraian di atas tampaklah betapa hingga saat ini keberadaan bacaan komik, khususnya yang menyangkut dampak yang ditimbulkan pada pembacanya, masih menjadi sebuah perdebatan. Persoalannya sekarang sebagai orang tua atau pendidik ke kubu manakah kita seharusnya berpihak? Pilihannya tentu akan berpulang pada diri kita masing-masing. Meskipun demikian sebelum kita menentukan sikap ada baiknya jika kita mempertimbangkan realitas berikut.
Menurut informasi masyarakat Jepang yang terkenal sangat hobi membaca itu pada umumnya adalah penggemar berat bacaan komik. Saking gandrungnya masyarakat negeri Sakura ini terhadap jenis bacaan ini hingga hampir 50% industri perbukuan mereka dikuasai oleh buku-buku berjenis komik. Bahkan saat ini ada semacam kecenderungan baru dalam industri perbukuan di negeri ini, semua hal yang menyangkut kehidupan mereka, baik dalam bidang ekonomi, sosial, politik hingga petunjuk cara masak-memasak dibuat dalam bentuk buku komik.
Buku-buku serial komik semacam Doraemon, Sailor Moon, Dragon Ball, Candy-Candy, atau Krayon Sinchan yang saat ini sudah diterjemahkan dalam berbagai bahasa serta telah dibuatkan serial animasinya, di Jepang bukan hanya digemari oleh kalangan anak-anak tetapi juga oleh para orang dewasanya. Bahkan mengenai serial komik Krayon Sinchan yang ramai dipersoalkan oleh masyarakat kita karena dianggap adegan-adegannya dinilai banyak yang vulgar serta menjurus ke arah pornografi, walaupun tokoh utamanya anak-anak, namun sejatinya di Jepang sendiri komik tersebut merupakan komiknya kalangan orang dewasa. Jadi seperti serial kartun Burt Simpson, walaupun salah satu tokohnya anak-anak tetapi serial tersebut sesungguhnya bukan diperuntukkan untuk kalangan anak-anak, setidaknya yang kurang dari usia 12 tahun. Dengan demikian wajar saja jika di dalam serial Krayon Sinchan terdapat sejumlah adegan yang ramai diributkan itu, serta salah kita sendiri jika serial animasinya disuguhkan kepada anak-anak.
Kemudian, seperti dilaporkan dalam buku Jepang Dewasa Ini (1996), di negara tersebut terdapat sebuah majalah mingguan komik yang mempunyai sirkulasi sebanyak 4 juta eksemplar lebih setiap kali terbit. Dan yang cukup mencengangkan, mereka yang menginginkannya harus pesan terlebih dahulu kepada para agen atau toko buku. Kegandrungan anak-anak Jepang melahap jenis bacaan komik ternyata tidak membuat mereka menjadi rusak minat bacanya atau terganggu aktivitas belajarnya. Setidaknya hingga setakat ini penulis belum menemukan hasil-hasil penelitian yang menyatakan hal yang dikhawatirkan itu.
Sementara di Indonesia menurut hasil penelitian yang dilakukan oleh Dian Rohaeni lewat skripsinya yang berjudul “Bacaan Anak-anak Bercorak Komik: Analisis Deskriptif atas Minat Baca Anak-anak pada Komik Elex Media Komputindo” (FSUI,1995), antara lain menyatakan sebanyak 91,5 % dari responden penelitiannya (100 anak-anak) dapat dikatagorikan sebagai kelompok komik-mania atau penggemar berat bacaan komik. Dan yang lebih penting lagi Dian Rohaeni juga tidak menemukan fakta bahwa anak-anak yang menggemari jenis bacaan komik tersebut hancur minat bacanya terhadap bacaan non-komik. Kegemaran mereka membaca komik umumnya beriringan dengan kegemaran membaca buku-buku non-komik, termasuk buku-buku pelajaran. Kemudian aktivitas belajar anak-anak penggemar bacaan komik tersebut juga sama sekali tidak terganggu, apalagi menjadi amburadul karenanya.



















BAB III
PEMBAHASAN

A. Pengertian Komik
Komik adalah sebuah cerita yang disampaikan dengan illustrasi gambar. Dengan kata lain, komik adalah sebuah cerita bergambar, dimana gambar tersebut berfungsi sebagai media pendeskripsian cerita. Sehingga, pembaca bukan sekedar membayangkan tentang karakter tokoh dan lokasi yang menjadi latar belakang cerita tersebut.
            Dari pengertian komik tersebut, komik pada dasarnya memiliki kesamaan dengan novel atau juga cerita pendek. Yang membedakan hanyalah, pada novel atau cerita pendek, pendeskripsian dilakukan dengan tulisan. Sedangkan pada komik, deskripsi cerita disampaikan melalui coretan gambar.
            Dengan keunggulan komik ini, tak jarang komik lebih menjadi pilihan mereka yang memiliki hobi membaca. Khususnya anak-anak dan remaja. Sebab, dengan adanya gambar, pembaca lebih mudah untuk melibatkan emosi merekapada cerita yang disajikan. Salah satunya, dengan mampu menghadirkan imajinasi tentang tentang tokoh cerita yang menjadi idola mereka.
B. Sejarah Komik di Indonesia

Generasi 1930an

Merujuk kepada Boneff maka komik Indonesia pada awal kelahirannya dapat di bagi menjadi dua kategori besar, yaitu komik strip dan buku komik. Kehadiran komik-komik di Indonesia pada tahun 1930an dapat ditemukan pada media Belanda seperti De Java Bode dan D’orient dimana terdapat komik-komik seperti Flippie Flink and Flash Gordon. Put On,seorang peranakan Tionghoa adalah karakter komik Indonesia yang pertama-tama merupakan karya Kho Wan Gie yang terbit rutin di surat kabar Sin Po. Put On menginspirasi banyak komik strip lainnya sejak tahun 30an sampai 60-an seperti pada Majalah Star(1939-1942) yang kemudian bertukar menjadi Star Weekly. Sementara itu di Solo, Nasroen A.S. membuahkan karya komik stripnya yang berjudul Mentjcari Poetri Hidjaoe melalui mingguan Ratu Timur. Di awal tahun 1950-an, salah satu pionir komik bernama Abdulsalam menerbitkan komik strip heroiknya di harian Kedaulatan Rakyat, Yogyakarta, salah satunya berjudul “Kisah Pendudukan Jogja”, bercerita tentang agresi militer Belanda ke atas kota Yogyakarta. Komik ini kemudian dibukukan oleh harian “Pikiran Rakyat” dari Bandung. Sebagian pengamat komik berpendapat bahwa inilah buku komik pertama-tama oleh artis komik Indonesia.

Generasi 1940-50an

Sekitar akhir tahun 1940an, banyak komik-komik dari Amerika yang disisipkan sebagai suplemen mingguan suratkabar. Diantaranya adalah komik seperti Tarzan, Rip Kirby, Phantom and Johnny Hazard. Kemudian penerbit seperti Gapura dan Keng po dari Jakarta, dan Perfects dari Malang, mengumpulkannya menjadi sebuah buku komik. Ditengah-tengah membanjirnya komik-komik asing, hadir Siaw Tik Kwei, salahs seorang komikus terdepan, yang memiliki teknik dan ketrampilan tinggi dalam menggambar mendapatkan kesempatan untuk menampilkan komik adapatasinya dari legenda pahlawan Tiongkok ‘Sie Djin Koei’. Komik ini berhasil melampaui popularitas Tarzan di kalangan pembaca lokal. Popularitas tokoh-tokoh komik asing mendorong upaya mentransformasikan beberapa karakter pahlawan super itu ke dalam selera lokal. R.A. Kosasih, yang kemudian dikenal sebagai Bapak Komik Indonesia, memulai karirnya dengan mengimitasi Wonder Woman menjadi pahlawan wanita bernama Sri Asih. Terdapat banyak lagi karakter pahlawan super yang diciptakan oleh komikus lainnya,diantaranya adalah Siti Gahara, Puteri Bintang, Garuda Putih and Kapten Comet, yang mendapatkan inspirasi dari Superman dan petualangan Flash Gordon.

Generasi 1960-70an

Adapatasi dari komik asing dalam komik Indonesia mendapatkan tentangan dan kritikan dari kalangan pendidik dan pengkritik budaya. Karena itu penerbit seperti Melodi dari Bandung dan Keng Po dari Jakarta mencari orientasi baru dengan melihat kembali kepada khazanah kebudayaan nasional. Sebagai hasil pencarian itu maka cerita-cerita yang diambil dari wayang Sunda dan Jawa menjadi tema-tema prioritas dalam penerbitan komik selanjutnya. R.A. Kosasih adalah salah seorang komikus yang terkenal keberhasilannya membawa epik Mahabharata dari wayang ke dalam media buku komik. Sementara itu dari Sumatra, terutamanya di kota Medan, terdapat pionir-pionir komikus berketrampilan tinggi seperto Taguan Hardjo, Djas, dan Zam Nuldyn, yang menyumbangkan estetika dan nilai filosofi ke dalam seni komik. Di bawah penerbitan Casso and Harris, artis-artis komik ini mengeksplorasi cerita rakyat Sumatra yang kemudian menjadi tema komik yang sangat digemari dari tahun 1960an hingga 1970an.
Banyak dipengaruhi komik-komik dengan gaya Amerika, Eropa, dan Tiongkok. Sebagian besar memanfaatkan majalah dan koran sebagai medianya, meskipun beberapa karya seperti Majapahit oleh R.A. Kosasih juga mendapatkan kesempatan untuk tampil dalam bentuk buku.

Generasi 1990-2000an

Ditandai oleh dimulainya kebebasan informasi lewat internet dan kemerdekaan penerbitan, komikus mendapat kesempatan untuk mengeksplorasi gayanya masing-masing dengan mengacu kepada banyak karya luar negeri yang lebih mudah diakses. Selain itu, beberapa judul komik yang sebelumnya mengalami kesulitan untuk menembus pasar dalam negeri, juga mendapat tempat dengan maraknya penerbit komik bajakan.
Selain itu beberapa penerbit besar mulai aktif memberikan kesempatan kepada komikus muda untuk mengubah image komik Indonesia yang selama ini terkesan terlalu serius menjadi lebih segar dan muda.
Ada dua aliran utama yang mendominasi komik modern Indonesia, yaitu Amerika (lebih dikenal dengan comics) dan Jepang (dengan stereotype manga).

Aliran Amerika

Komikus yang memilih style ini kebanyakan memang mereferensikan karya mereka pada komikus-komikus Amerika. Sebagian dari mereka bahkan ada yang bekerja untuk produksi komik Amerika. Beberapa komikus yang bisa dikatakan beraliran gaya Amerika antara lain

Aliran Jepang

Komikus yang menggunakan aliran ini sangat diuntungkan dengan berkembangnya komunitas di Internet. Beberapa situs seperti julliedillon.net, howtodrawmanga.com, dan mangauniversity memuat banyak informasi pembuatan manga. Hal ini juga membuat ciri utama komikus Indonesia dengan aliran gambar Jepang, yaitu kebanyakan nama pengarangnya disamarkan dengan nickname masing-masing di dunia maya. Kemungkinan hal inilah yang menyebabkan sulitnya mengetahui jumlah tepatnya komikus lokal. Beberapa pengarang komik yang aktif mengeluarkan karya dengan gaya ini adalah:
Beberapa Studio Komik juga pernah membuat karya-karya yang berciri aliran Jepang, antara lain

Komik Independen

Diawali dengan semangat untuk melawan hegemoni komik-komik dari luar Indonesia, muncullah komik-komik independen (lokal). Mencoba tampil berbeda, membuat gaya gambar lebih variatif dan eksperimental. Banyak komikus-komikus indie (independen) mengandalkan mesin fotokopi untuk penggandaan karya-karya mereka. Sistem distribusi paling banyak dilakukan di pameran komik, baik dengan jalan jual-beli atau barter antarkomikus. Tak jarang ada komikus yang menghalalkan karyanya untuk diperbanyak dan disebarluaskan, dengan motto 'copyleft' (lawan dari copyright atau hak cipta). Tentunya tidak untuk tujuan komersil.
Beberapa studio komik Independen antara lain:
C. Merangsang Anak Senang Membaca dan Belajar
Pemahaman tentang belajar kepada anak harus ditanamkan sejak dini. Belajar adalah proses mengetahui sesuatu yang belum diketahui dan memperdalam apa yang telah diketahui. Mungkin menanamkan pengertian seperti ini baru akan efektif sekitar klas 6 SD-SMP (12 – 16 tahun) . Di bawah usia itu mungkin anak belum dapat memahami definisi belajar tersebut.
Akan tetapi sebetulnya yang lebih penting adalah pemahaman tentang tindakan yang mengantar menjadi senang belajar.  Sebelum anak sampai pada kesenangan untuk belajar, maka terlebih dahulu harus senang membaca, ini mutlak!. Tidaklah mungkin anak bisa sampai senang belajar kalau ia tidak senang membaca. Permulaan dari kesenangan membaca anak adalah ia harus mulai suka membaca tentang hal-hal yang sederhana, sepele dan ringan, seperti komik, mulai dari yang bergambar atau tidak, mulai dari komik silat sampai roman picisan, majalah apa saja mulai  dari majalah anak, remaja dan juga novel.
Kalau anak sampai tidak senang membaca komik atau majalah, apalagi yang bergambar, maka jangan harap ia akan senang belajar!. Buku teks pelajaran jelas-jelas lebih bernuansa serius dan bahkan kurang mengasyikkan dibandingkan dengan komik, majalah atau novel, baik dalam alur cerita, tema ataupun gambar ilustrasi pendukungnya. Dengan demikian jangan pernah memarahi anak kalau kita sedang melihatnya sedang asyik membaca komik, majalah atau novel. “Tapi kalau tidak dimarahi, dia akan keasyikan membaca komik terus, lalu kapan ia mau belajar ?” Ini adalah pertanyaan wajar yang muncul dari orang tua. Anak semakin gemar membaca baik komik maupun buku cerita ataupun majalah secara umpet-umpetan. Sehingga yang perlu dilakukan adalah memberikan pengertian bahwa membaca novel, komik atau majalah adalah baik karena banyak pengetahuan atau pelajaran sebagai contoh atau keteladanan yang dapat diambil hikmahnya. Namun, jangan lupa belajar dengan membaca buku-buku pelajaran yang syarat dengan berbagai ilmu pengetahuan yang sangat diperlukan untuk menunjang kehidupan kita kelak. Atau, kita minta kepada anak untuk memakai hasrat, kegairahan dan keingintahuan dalam membaca komik dalam membaca buku-buku pelajaran. Kalau ini yang terjadi, adalah hal yang laur biasa. Anak akan dengan senang hati malalap habis (membaca) buku pelajarannya. Mungkin kita bisa ingat bagaimana hasrat, gairah dan keingintahuan dalam mengetahui akhir cerita suatu seri buku cerita (misalnya : Sinchan atau Harry Potter karangan J.K Rowling).
Anak juga diperkenalkan dengan bacaan hasil karya sastra yang bermutu, karya Sutan Takdir Alisyahbana, Mutinggo Busye, dsb. Karya sastra mengungkapkan nilai-nilai kejujuran, ketertiban, tanggung jawab , pengendalian diri, kebersamaan. Para ahli mengatakan bahwa membaca karangan kerya sastra dapat memperhalus budi pekerti, membuat manusia lebih arif dalam menghadapi kehidupan, dan bahkan memerdekakan pikiran serta jiwa, sehingga manusia belajar untuk tidak mendominasi manusia lainnya dan dapat mencipta sejarahnya sendiri. Hal ini seperti dikatakan oleh sastrawan Taufik Ismail maupun Prof. Dr. Suminto A. Sayuti, dari Universitas Negeri Yogyakarta.
Hal penting lainnya dalam konteks membuat anak senang belajar, adalah jangan memarahi anak kalau dia mendapat nilai jelek dlam pelajarannya, apalagi kalau ia sudah sungguh-sungguh belajar keras. Hal ini hanya akan membuat anak semakin takut atau tertekan untuk belajar. Lalu apa yang harus dilakukan?. Ajaklah anak untuk omong-omong tentang kesulitan yang membuat ia tidak bisa mengerjakan ulangan atau ujiannya, lalu berikanlah solusinya. Dan berikanlah penghargaan meskipun ia gagal meraih prestasi, hal ini justru akan semakin menantang anak untuk lebih giat lagi dalam belajar. Yang perlu lebih dihargai adalah melihat proses bukan hanya hasil belajar
D. Eksistensi Komik bagi Pelajar
Dewasa ini, komik sudah menjadi bacaan favorit hampir di seluruh kalangan masyarakat. Peminat dan pembaca komik mulai dari anak – anak hingga orang dewasa. Oleh karena itu, tidak heran keberadaan komik tidak pernah hilang ataupun merosot di publik pembaca.
Menurut pandangan masyarakat pada umumnya mengenai komik, bahwa komik merupakan buku bacaan bergambar yang isinya bersifat santai dan tidak bermanfaat. Padahal komik banyak mengandung hal yang menarik. Maka dari itu, berkenaan dengan pengertian komik, banyak para ahli yang berpendapat tentang definisi komik. Menurut Scott McCloud dalam buku Understanding Comics bahwa komik merupakan gambar yang menyampaikan informasi atau menghasilkan respon estetik pada yang melihatnya. Dapat dikatakan, komik sebagai produk budaya karena dibuat atas dasar kreasi yang dipresentasikan secara visual.
Dengan kata lain, dunia komik merupakan media yang dapat dijadikan wadah untuk menampung berbagai gagasan dan gambar. Akan tetapi, gambar dan gagasan tersebut tentu tergantung pada masing – masing selera pembuatnya. Maka dari selera yang berbeda tersebut, muncul gaya gambar yang bermacam – macam, seperti manga atau komik Jepang.
Biasanya karakter komik Jepang memiliki gaya gambar yang berciri mata besar, gaya rambut yang menarik, dan gaya pakaian karakter dalam komik sangat eksentrik. Gaya pakaian yang dimaksud dipengaruhi pada fashion orang – orang Jepang. Hal – hal tersebut merupakan salah satu alasan yang membuat komik banyak diminati. Kemudian, dengan menggambarkan bentuk mata, mulut, dan postur tubuh dapat menggambarkan perubahan emosi pada setiap karakter dalam komik. Sehingga, membuat pembaca terbawa oleh suasana dan tertarik untuk terus membacanya hingga selesai.
Pada dasarnya, komik dibuat dan dikreasikan oleh manusia untuk kebutuhan hidupnya. Meskipun membaca belum tentu menjadi kebutuhan primer, apalagi membaca komik. Namun di kalangan tertentu,ada sejumlah orang menganggap bahwa membaca komik sebagai kebutuhan. Bahkan, di zaman sekarang ini, di mana dunia hiburan semakin penting bagi manusia, komik pun seakan – akan menjadi kebutuhan primer.
Sementara itu, membaca merupakan suatu kegiatan ilmiah yang khas. Seperti di kalangan pelajar, selama belajar di perguruan tinggi, mahasiswa banyak terlibat dalam kegiatan membaca. Akan tetapi, yang menjadi pertanyaan adalah bacaan seperti apa yang dijadikan kebutuhan primer bagi mahasiswa. Padahal membaca dilakukan dalam rangka pekerjaan intelektual, seperti membaca buku, artikel atau bahan cetak lain.
Seperti yang dijelaskan sebelumnya bahwa komik digemari oleh pembaca dari berbagai kalangan, termasuk kalangan pelajar khususnya mahasiswa. Pembaca di kalangan mahasiswa pun tidak hanya khusus berasal dari satu tingkat semester, melainkan dari berbagai tingkat semester, berbagai jurusan fakultas, dan jenis kelamin, menggemari komik. Akan tetapi, mahasiswa memiliki tingkat minat membaca komik Jepang yang berbeda, sesuai dengan alasan, tujuan, dan sifat materi komik yang diminati oleh mahasiswa. Maka tidak aneh lagi, komik masuk di dalam daftar buku bacaan bagi mahasiswa. Di samping itu, kini semakin berkembangnya teknologi komunikasi, maka akan semakin mudah bagi mahasiswa untuk bisa menjajaki komik – komik, khususnya komik Jepang.
E.  Tips Memilih Komik
Bagi para orang tua yang hendak memilihkan komik bagi anak-anak mereka, harus lebih berhati-hati. Jangan sampai, niat untuk memberikan bacaan hiburan dan merangsang minat baca pada anak, justru menimbulkan hal negatif karena salah memilih jenis bacaan.
Untuk itu, dalam memilih komik bagi anak-anak, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan. Di antaranya adalah :
1.    Kenali dengan jelas latar belakang komik, seperti pengarang dan penerbitnya. Penerbit yang sudah terkenal, biasanya lebih selektif dalam membuat terbitan dan sangat kecil kemungkinannya disisipi oleh cerita komik yang berbau pornografi.
2.    Sempatkan untuk ikut membaca komik bagi anak Anda. Hal ini bertujuan agar Anda bisa menyeleksi isi bacaan dalam komik tersebut, dan bisa menjelaskan kepada anak-anak apabila terdapat hal-hal yang kurang baik bagi perkembangan mental mereka.
3.    Jelaskan kepada anak Anda, bahwa komik hanyalah sebuah cerita fiksi. Sehingga semua jalan cerita yang ada hanyalah khayalan, sehingga anak-anak tidak perlu meniru beberapa perbuatan yang bisa membahayakan keselamatan mereka.
4.    Arahkan anak untuk lebih memilih menyewa komik daripada membeli sebuah komik. Karena hal ini bisa melatih anak untuk belajar berhemat serta menggunakan uangnya untuk hal lain yang lebih bermanfaat.

F.  DAMPAK MEMBACA KOMIK

Ternyata membaca komik itu ada beberapa dampaknya lho bagi yang terlalu sering membacanya. Tetapi tentunya ada dampak negatif dan dampak positifnya dong. Berikut ini dampak dari terlalu sering membaca komik :
DAMPAK POSITIF :
1.Belajar Berhitung
   Masih ingat komik Doraemon? Karakter karya Fujiko F. Fujio ini termasuk paling dicintai anak-anak. Beberapa tahun yang lalu, komik Doraemon edisi belajar berhitung juga diterbitkan. Komik-komik seperti ini tentu sangat bermanfaat dan menolong karena menghadirkan nuansa belajar yang menyenangkan bersama tokoh kesayangan.
2. Mengenal Alam Sekitar
   Komik yang memperkenalkan lingkungan dan alam sekitar juga sangat bermanfaat bagi anak-anak. Anda tidak mungkin membawa anak-anak ke masa dinosaurus untuk memperkenalkan mereka kepada Tyranosaurus, misalnya. Anak-anak pun bisa diperkenalkan pada berbagai jenis tumbuhan dan hewan melalui komik.
3. Membantu Memahami Cerita
    Mengapa komik dibuat juga dengan disertai gambar ? tentunya ada maksud tertentu dibalik itu , ,yaitu untuk mempermudah pembaca dalam memahami cerita sehingga tidak perlu bersusah payah untuk membayangkannya karena gambarannya sudah jelas ada di dalam komik tersebut.
4. Mendorong Minat Baca
    Komik juga mengundang minat baca anak2 bahkan banyak orang dewasa yang menyukai komik. Banyak pembaca komik dari kecil yang telah dewasa yang mengaku imajinasinya tumbuh dari membaca komik sejak kecil.
5. Komik Mengajarkan Nilai Moral
    Komik menghadirkan nilai2 moral bagi siapa saja , sebagai contohnya persahabatan, kerja keras, kegigihan, semangat pantang menyerah, bahkan komik terkadang juga mengandung nilai-nilai kebersamaan . Komik olah raga umumnya mengajarkan nilai kerja keras, kegigihan, dan semangat pantang menyerah. Pesan umum yang disampaikan biasanya "semakin gigih kamu berusaha, semakin dekat pula dirimu pada keberhasilan". Prinsip alkitabiah seperti "kasihilah musuhmu" juga bisa ditemukan. Nilai-nilai ini bisa dilihat dari komik, seperti "Shoot!", "Kungfu Boy", "Harlem Beat", dan lain-lain.
6. Komik Merupakan Sarana Hiburan yang Tidak Memakan Waktu
    Untuk mengisi kejenuhan, komik bisa menjadi alternatif yang sangat cocok. Waktu yang dibutuhkan untuk membaca komik tidak seperti ketika membaca novel. Sebab ada banyak yang dapat diringkas oleh komik, misalnya penggambaran ekspresi wajah dan penjelasan latar tempat.
DAMPAK NEGATIF
1. Komik Membatasi Imajinasi
    Terlalu sering membaca komik juga gak baik nih , , di dalam komik telah disajikan gambar-gambar yang sesuai dengan cerita ,maksud awalnya memang baik , ,untuk memudahkan pembaca dalam memahami cerita. Namun, dengan adanya gambar-gambar tersebut malah justru dapat membatasi imajinasi si pembaca terlebih anak-anak karena maksud dalam cerita telah disajikan dalam gambar. Berbeda dengan novel, karena dalam novel pembaca dituntut untuk berfikir seperti apa kira-kira maksud dari penulis ini.
2. Tidak Mampu Menikmati dan Mengapresiasi Karya Sastra
  Ketidakmampuan untuk menggunakan imajinasi akhirnya bisa membuat kita sulit menangkap penggambaran yang diberikan cerpen atau novel. Kalaupun dapat, pembayangan yang kita miliki mungkin hanya terpaku pada pengalaman kita pada latar lingkungan yang ditampilkan komik. Akhirnya, kita bisa kesulitan untuk merasakan keindahan kosakata yang dipakai penulis. Padahal apresiasi prosa menjadi bagian pelajaran bahasa Indonesia yang masih harus dijalani para siswa, minimal sampai tingkat SMA.

3. Komik Menimbulkan Efek Adiktif
    Efek adiktif yang timbul bisa berupa keinginan untuk segera menikmati seri sambungan (umumnya karena penasaran) atau sekadar membaca lebih banyak komik lainnya. Efeknya, selain menghabiskan banyak dana untuk menyewa atau membeli edisi demi edisi, rasa penasaran juga bisa mendorong kita untuk lebih banyak menghabiskan waktu bersama komik.
4. Komik Lebih Eksplisit Menggambarkan Adegan
    Adegan-adegan kekerasan dan bernuansa pornografi juga tergambar dengan lebih jelas dalam komik. Hal ini sudah pasti tidak akan baik bila dikonsumsi oleh anak-anak di bawah umur. Beberapa komik juga mengikuti praktik atau kebiasaan yang berkenaan erat dengan okultisme (misalnya, pada komik seri-seri misteri), sedangkan yang lain dikaitkan dengan masalah-masalah sosial seperti homoseksualitas dan penyalahgunaan obat-obatan (Lorelli 2006). Kondisi ini diperparah dengan anggapan bahwa komik merupakan konsumsi anak-anak. Memang kini ada pelabelan, meski hal ini tidak banyak berpengaruh.
 
BAB IV
PENUTUP

Kesimpulan
Komik memang selalu identik sebagai bacaan anak-anak. Walaupun sebenarnya tidak semua komik diperuntukkan bagi anak-anak. Orang tua harus selektif saat memilihkan komik untuk anak-anak. Jangan sampai hanya karena membaca komik membuat anak-anak berbicara yang kurang sopan dan bertindak secara kasar.
Tidak sedikit komik yang menampilkan gambar-gambar adegan kekerasan dan porno. Gambar-gambar tersebut sangat tidak tepat jika dibaca oleh anak-anak. Oleh karena itu, orang tua sebaiknya tidak menganggap bahwa semua komik diperuntukkan bagi anak-anak. Orang tua lebih baik ikut menyeleksi bacaan apa saja yang cocok untuk anak-anak termasuk komik.
Jika tepat dalam memilih komik. Banyak manfaat yang bisa diperoleh. Manfaat menbaca komik bagi anak-anak antara lain :
  • Dapat meningkatkan minat membaca yang dimiliki oleh anak-anak
  • Dapat melatih mengenal warna dan jenis-jenis benda
  • Dapat meningkatkan kemampuan membaca anak-anak
  • Dapat meningkatkan imajinasi yang dimiliki anak-anak
  • Dapat melihat suatu masalah dari sudut pandang yang berbeda
  • Membantu anak untuk menyalurkan emosinya
  • Memperkenalkan anak pada kosakata yang lebih banyak, seperti halnya jika membaca buku yang lain.
Untuk itulah, alangkah lebih baik jika orang tua ikut memperhatikan komik-komik yang diinginkan anak-anak. Tidak semua komik untuk anak-anak. Tidak sedikit komik yang diberi petunjuk bahwa komik tersebut untuk anak-anak,remaja atau bahkan komik dewasa.

 
DAFTAR PUSTAKA
Bonneff, Marcel. 1998. Komik Indonesia. Jakarta : Gramedia.
Muktiono, Joko D. 2003. Aku Cinta Buku : Menumbuhkan Minat Baca pada Anak.  Jakarta : Gramedia.
www.kompas.com/ M.M. Nimas Eki Suprawati, Psi., M.Si, dosen psikologi Fakultas Psikologi Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta | Rabu, 27 Agustus 2008.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar