Daftar Blog Saya

Jumat, 13 Desember 2013

asupan gula berlebih ganggu proses belajar anak

BAB I

PENDAHULUAN


A.   Latar Belakang

REPUBLIKA.CO.ID,JAKARTA--Asupan gula berlebih bisa mengganggu proses belajar anak karena adanya gangguan konsentrasi di otak, ujar dokter spesialis anak endokrin dari FKUI, Dr. Aman Pulungan, Sp.A(K), pada jumpa pers di Jakarta, Rabu.
"Kadar glukosa darah terlalu tinggi atau terlalu rendah dapat mengganggu proses belajar dan memori yang berhubungan dengan konsentrasi anak. Bahkan bila berlangsung berkepanjangan, dapat merusak jaringan otak," papar Aman.
Pada kesempatan yang sama, dokter spesialis jiwa anak, Dr. Tjhin Wiguna Sp. KJ(K), mengatakan bahwa asupan gula yang berlebihan juga bisa mengakibatkan perubahan pada perilaku dan keadaan emosional anak.
"Asupan gula berlebih bisa membuat anak menjadi lebih aktif dalam waktu singkat, apalagi pada anak usia pra sekolah," kata Tjhin. Tjhin juga menambahkan bahwa perilaku aktif dan agresif tersebut akan menurunkan kualitas belajar anak. "Gula dengan cepat akan meningkatkan energi anak karena kadar glukosa dalam darah yang meningkat tinggi," ujar Tjhin.
Padahal, seiring dengan meningkatnya glukosa dalam darah secara drastis, maka insulin juga akan meningkatkan produksi untuk memecah glukosa tersebut.Insulin yang cenderung tinggi justru akan membuat anak menjadi lebih mudah lelah. "Yang terbaik adalah anak mengkonsumsi makanan dengan protein tinggi dan rendah karbohidrat sebelum melakukan pekerjaan rumit yang membutuhkan konsentrasi dan kewaspadaan," kata Tjhin.

B.   Rumusan Masalah


Yang saya bahas dimakalah adalah apakah benar asupan gula berlebih mengganggu proses belajar, gula yang ideal untuk anak berapa?

BAB II

Landasan Teori


Behaviorisme
Rumpun teori ini disebut behaviorme karena sangat menekankan perilaku atau tingkah laku yang dapat diamati dan diukur. Teori-teori dalam dalam rumpun ini bersifat molekular, karena memandang kehidupan individu terdiri dari unsur-unsur tersebut seperti halnya molekul-molekul. Ada beberapa ciri dari rumpun teori ini yaitu: (1) mengutamakan unsur-unsur atau bagian-bagian kecil; (2) bersifat mekanistis; (3) menekankan pada peranan lingkungan; (4) mementingkan pembentukan reaksi atau respon; dan (5) menekankan pentingnya latihan (Sukmadinata, 2003:168).
Teori Cognitive Gestalt-Field
Teori belajar Gestalt (Gestal Theory) lahir di Jerman pada tahun 1912 dipelopori  dan dikembangkan oleh Max Wertheimer (1880-1943) yang meneliti tentang pengamatan dan problem solving, dari pengamatannya ia menyesalkan penggunaan metode menghapal di sekolah, dan menghendaki agar murid belajar dengan pengertian bukan hapalan akademis.








BAB III

PEMBAHASAN


A.   Pengertian Belajar

Setiap definisi belajar berbeda menurut teori yang dianut. Secara tradisional, belajar dianggap sebagai pengetahuan. Disini yang diutamakan adalah aspek intelektual saja. Siswa diminta agar mempelajari berbagai mata pelajaran yang memberinya berbagai macam pengetahua yang menjadi miliknya dan kebanyakan dengan cara menghapal. Hilgard and Bower dikutip dari Sanjaya (2000) mengatakan bahwa, ”Learning is the process, by which an activity originates or is changed through training procedures (whether in the laboratory or in the natural environment) as distinguishes from changes by factors not attributable to training”. Bagi Hilgrad dan Bower, belajar itu adalah proses perubahan melalui kegiatan dan prosedur latihan baik di dalam laboratorium maupun dalam lingkungan alamiah. Belajar bukanlah sekedar mengumpulkan ilmu pengetahuan. Belajar adalah proses mental yang terjadi dalam diri seseorang, sehingga menyebabakan munculnya perubahan perilaku. Aktivitas mental itu terjadi karena adanya interaksi individu dengan lingkungan yang disadarinya.
Definisi belajar diatas mungkin masih menekankan pada pelatihan dan penghapalan, sehingga masih memerlukan penjelasan lebih dalam mengenai definisi belajar. Cronbach (1954) dikutip dari Baharudin dan Wahyuni (2007) mengatakan bahwa belajar ditunjukan dengan peubahan tingkah laku melalui pengalama. Hal ini sesuai dengan pendapat Spears (1955) dikutip juga dari Baharudin dan Wahyuni (2007)  yang menyatakan bahwa,” Learning is to observe, to read, to imitate, to try something themselves, to listen to follow directions”.
Berdasarkan definisi diatas, sepertinya para ahli menyatakan bahwa belajar lebih menekankan pada pengalaman dan latihan sebagai mediasi bagi kegiatan belajar. Woolfolk (1995) juga menyatakan bahawa,” Learning occurs when experience causes a relatively permanent change in an individual’s knowledge or behavior”.
Dari definisi diatas, dapat disimpulkan bahwa belajar itu ditandai adanya perubahan tingkah laku. Ini berarti,bahwa hasil dari belajar hanya dapat diamati dari tingkah laku, yaitu adanya perubahan tingkah laku, dari tidak tahu menjadi tidak tahu, dari tidak terampil menjadi terampil. Tampa mengamati tingkah laku hasil belajar, kita tidak dapat menegtahui ada tidaknya hasil belajar. Perubahan tingkah laku tidak harus segera dapat diamati pada saat proses belajar sedang berlangsung, perubahan perilaku tersebut bersifat potensial dan perubahan tingkah laku merupakan hasil latihan atau pengalaman.

B.   Proses Belajar

Proses belajar adalah serangkaian aktivitas yang terjadi pada pusat syaraf indivdu yang belajar. Proses belajar terjadi secara abstrak, karena terjadi secara mental dan tidak dapat diamati. Oleh karena itu, proses belajar hanya dapat diamati jika ada perubahan perilaku dari seseorang yang berbeda dengan sebelummnya . Perubahan perilaku tersebut bisa dalam hal pengetahuan, afektif, maupun psikomioriknya. Dimyadi dan Mudjiono (1996:7) mengemukakan siswa adalah penentu terjadinya atau tidak terjadinya proses belajar. Berhasil atau gagalnya pencapain tujuan pendidikan amat tergantung dari proses belajar dan mengajar yang dialami siswa dan pendidik baik ketika para siswa itu di sekolah maupun di lingkungan keluarganya sendiri. Menurut Gagne (1984) belajar sebagai suatu proses dimana suatu organisme berubah perilakunya sebagai akibat pengalaman.
Jerome S. Bruner (1960) seorang ahli psikologi perkembangan dan psikologi belajar. Bruner tidak mengembangkan suatu teori belajar yang sistematis, yang penting baginya ialah cara-cara bagaimana orang memilih, mempertahankan, dan mentransformasika informasi secara efektif, ialah menurut Bruner inti dari belajar. Menurutnya dalam proses belajar dapat dibedakan menjadi tiga fase yaitu: (1) informasi, dalam tiap pelajaran kita peroleh sejumlah informasi, ada yang menambah pengetahuan yang telah kita miliki, ada yang memperhalus dan memperdalamnya ada pula informasi yang bertentangan dengan apa yang telah kita ketahui sebelumnya, mislnya ada energi yang lenyap; (2) transformasi, informasi itu harus dianalisis, diubah atau ditransformasikan kedalam yang lebih abstrak, atau konseprual agar dapat digunakan untuk hal-hal yang lebih luas dalam hal ini bantuan guru sangat diperlukan; dan (3) Evaluasi kemudian kita nilai hingga manakah pengetahuan yang kita peroleh dan transformasi itu dapat dimanfaatkan untuk memahami gejala-gejala lain.
Dalam proses belajar ketiga episode ini selalau ada, yang menjadi masalah ialah berapa banyak informasi diperlukan agar dapat ditrasformasi. Lama tiap episode tidak selalu sama, hal ini antara lain tergantung pada hasil yang diharapkan, motivasi murid belajar, minat, keinginan untul mengetahui, dan dorongan untuk menemukan sendiri.
Belajar adalah proses yang kompleks, sejalan dengan itu menurut Robert M. Gagne (1970) belajar merupakan kegiatan yang kompleks dan hasil belajar berupa kapabilitas, timbulnya kapabilitas disebabkan; (1) stimulusi yang berasal dari lingkungan; dan (2) proses kognitif yang dilakukan oleh pelajar. Setelah belajar orang memiliki keterampilan, pengetahuan, sikap dan nilai. Dengan demikian dapat ditegaskan, belajar adalah seperangkat proses kognitif yang mengubah sifat stimulai ligkungan, melewati pengolahan informasi, dan menjadi kapabilitas baru. Belajar terjadi bila ada hasilnya yang dapat dipelihatkan, anak-anak demikian juga orang dewasa dapat mengingat kembali kata-kata yang telah pernah didengar atau dipelajari
Gagne (1970) mengemukakan bahwa belajar adalah perubahan yang terjadi dalam kemampuan manusia yang terjadi setelah belajar secara terus menerus, bukan hanya disebabkan oleh proses pertumbuhan saja. Belajar terjadi apabila suatu situasi stimulus bersama dengan isi ingatan mempengaruhi siswa sedemikian rupa sehingga perbuatannya (performance) berubah dari waktu sebelum ia mengalami situasi itu ke waktu setelah ia mengalami situasi tadi.
Gagne berkeyakinan, bahwa belajar dipengaruhi oleh faktor dalam diri dan faktor luar diri dimana keduanya saling berinteraksi. Komponen-komponen dalam proses belajar menurut Gagne dapat di gambarkan sebagai (S) stimulus——– (R) respons. S yaitu situasi yang memberi stimulus, sedangkan R adalah respons dan garis diantaranya adalah hubungan antara stimulus dan respon yang terjadi dalam diri seseorang yang tidak dapat kita amati, yang bertalian dengan sistem syaraf dimana terjadi transformasi perangsang yang dierima melalui alat dria. Stimulus itu merupakan input yang berada diluar individu, sedangkan respons adalah outputnya, yang juga berada diluar individu sebagai hasil belajar yang dapat diamati (Nasution, 2000:136)
Ada tiga komponen penting yakni kondisi eksternal yaitu stimulus dari lingkungan dalam acara belajar, kondisi internal yang menggambarkan keadaa  internal da proses kognitif siswa dan hasil belajar yang menggambarkan informal verbal, keterampilan intelek, keterampilan motorik, sikap, dan siasat kognitif. Kondisi internal belajar ini berinteraksi dengan kondisi eksternal belajar, dari interaksi tersebut tampaklah hasil belajar.

C.   Gula tambahan

Gula tambahan,menurut DR.Dr.Fiastuti Witjaksono,Sp.GK,MS,MSc merupakan gula yang ditambahkan kedalam makanan atau minuman pada saat produksi,pemasakan,atau di tambahkan oleh konsumen sendiri.Selain memberikan rasa manis,gula juga akan menambah massa dan tekstur makanan.”Gula merupakan karbohidrat sederhana yang hanya mengandung energi atau kalori,tidak mengandung zat gizi lain,”ujar ahli gizi dari Departement ilmu gizi FKUI-RSCM ini.
Disamping gula tambahan,juga terdapat gula alami yang terkandung dalam makanan yang belum di proses,misalnya gula susu (laktosa ) dan gula buah (fruktosa). Gula tambahan yang sering tercantum pada label makanan,menurut data dietary guidelines for americans  meliputi Glucose,fructose,fruit juice concentrate,honey,lactose,brown sugar,cane sugar,corn sweetener,corn syrup,high fructose corn syrup,malt syrup,syrup,crystalline fructose,dextrose,evaporated cane juice,maltose,molasses,sucrose,raw sugar,and sugar.
Gula tambahan itu juga terdapat juga pada sebagian besar jajanan anak seperti kue,permen,muffin,donat,selai,cokelat,es krim,minuman ringan,juga jus buah dan susu pertumbuhan.”Kebanyakan makanan olahan diberi gula tambahan,dan sumbangannya besar sekali pada penumpukan kalori di tubuh anak-anak,”Ujar Cyntia Odgen,ahli epidemiologi dari National Center for Health Statistics,yang merupakan bagian dari Centers of disease control and prevention di Amerika Serikat. Odgen telah melakukan analisis dan menyatakan anak-anak sekarang mengonsumsi gula jauh lebih banyak dari yang seharusnya.
Asupan gula yang disarankan WHO,tak lebih dari 10 persen energi total. Jadi untuk anak usia 1-3 tahun dengan AKG(Angka kecukupan Gizi) 1000 kalori,konsumsi gula hanya 25 gram atau 5 sendok teh perhari. Usia 4-6 tahun dengan AKG 1.550 kalori,konsumsi gula cukup 38,75 gr atau 7,7 sendok teh perhari.
Kadar gula tambahan pada jajanan anak :
  • 1 Buah donat = 5 sendok teh gula
  • 3 Buah biskuit coklat=2 sdt gula
  • 30 gr biskuit cokelat=2,5 sdt gula
  • 50 gr permen gum=7 sdt gula
  • 75 gr jeli=4 sdt
  • 1 Skup es krim=4 sdt
  • 1 kaleng soda=7 sdt
  • 1 cangkir minuman cokelat=3 sdt

D.   Bahaya Gula

Gula yang sehari-hari kita kenal adalah gula dalam bentuk sukrosa, yaitu gula pasir putih yang diproses secara industri dari air tebu atau bit. Sukrosa tidak bisa digolongkan dalam makanan bergizi karena selama proses pengolahannya, seluruh kandungan vitamin, mineral, protein, serat, air dan zat-zat pendukung penting lainnya telah dibuang. Struktur kimiawi sukrosa tidak terdapat di alam dan karenanya tidak cocok untuk sistem tubuh manusia.
Ketika dikonsumsi, gula jenis ini akan dengan cepat meningkatkan kadar gula dalam darah sehingga merangsang pankreas mengeluarkan insulin (hormon yang bertugas mengendalikan kadar gula darah) untuk menyeimbangkannya kembali. Fluktuasi yang cepat kadar gula darah seperti itu bukanlah hal yang sehat karena menimbulkan stres pada tubuh. Selain dalam bentuk gula pasir sebagai penyeduh kopi dan teh, waspada gula yang tersembunyi dalam berbagai makanan dan minuman manis seperti cake, donat, pie, permen, pastry, aneka kue kering, biskuit, se krim , milk shake hingga aneka minuman ringan olahan gula (soft drink).
Berbeda dengan gula-gula lain seperti fruktosa pada buah-buahan dan madu, laktosa pada susu dan maltosa pada biji-bijian termasuk zat alami yang memiliki nilai gizi. Sedangkan gula mentah (raw sugar) adalah jenis gula yang bentuknya kasar dan lengket. Asalnya dari air tebu dan pembuatannya hanya dilakukan dengan cara direbus biasa. Jenis gula ini masih mengandung sedikit gizi, tetapi sekarang gula mentah agak slit diperoleh.
Sedangkan yang disebut gula cokelat atau brown sugar seperti yang banyak dijual di pasar swalayan, sebenarnya tidak lebih dari gula pasir putih yang diberi molase untuk memperkaya rasa dan warnanya. Jadi jika dikonsumsi akan memberikan efek yang sama di dalam tubuh kita.
Sukrosa menekan sistem imun dengan cara memaksa pankreas memproduksi insulin secara berlebihan. Insulin akan tetap tinggal dalam sirkulasi darah walaupun proses penguraian gula sudah lama sekali. Salah satu efeknya adalah menekan produksi hormon pertumbuhan (growth hormone) pada kelenjar pituitari (kelenjar seukuran biji kacang polong yang terletak pada dasar otak).
Hormon pertumbuhan adalah regulator utama pada sistem imun. Karena itu kebiasaan mengkonsumsi banyak gula setiap hari akan menyebabkan defisiensi hormon pertumbuhan yang serius dan konsekuensinya adalah menurunnya kekebalan tubuh akibat darah terus-menerus kebanjiran insulin.
Selain itu, kelebihan gula dalam darah dapat menyebabkan defisiensi vitamin C. Gula darah dan vitamin C memiliki struktur kimia yang serupa. Ketika kadar gula dalam darah meningkat, mereka akan berlomba memasuki sel-sel tubuh. Jika kadarnya sangat tinggi, mereka akan memenuhi sel-sel tubuh dan tidak menyisakan tempat untuk vitamin C. Padahal sel-sel darah putih memerlukan vitamin C untuk melakukan fungsinya membasmi virus dan bakteri yang masuk ke dalam tubuh.
Sistem imun juga akan memperlakukan gula pasir sebagai zat asing yang bersifat racun, karena struktur kimiawinya yang sudah tidak alami lagi dan adanya zat-zat kimia lainnya yang digunakan dalam proses pengolahan. Jadi, gula tidak hanya memicu respon (yang tidak terjadi) dari sistem imun saja, tetapi sekaligus juga menekan fungsi imun itu sendiri.
Karena gula banyak sumbernya, konsumsi gula pasir maksimal yang dianjurkan adalah 2 sendok teh perhari. Penggunaan gula alami seperti misalnya stevia dan konsentrat jus buah dalam hal ini, bisa dipertimbangkan sebagai alternatif. Karena gula alami lebih perlahan memasuki aliran darah. Dengan begitu lebih sedikit menimbulkan masalah pada insulin. Selain itu gula alami juga tidak semnais gula pasir sehingga tidak mudah menimbulkan kecanduan.
Walaupun begitu, gula alami juga sebaiknya tidak dikonsumsi berlebihan. Jika sudah terbiasa mengkonsumsi sedikit gula, maka semua makanan akan terasa lebih enak. Karena kita akan lebih sensitif dalam merasakan manisnya makanan alami. Jadi kecanduan gula sedikit demi sedikit akan bisa dikontrol, tubuh terasa lebih enak dan kita pun akan tidur lebih nyenyak.

E.   Bahaya Gula Tambahan pada Susu Anak


Di negara-negara Asia, konsumsi susu anak sangat tinggi. Produk susu yang mengandung gula tambahan dapat meningkatkan kepadatan energi, mengurangi nilai gizi susu dan kecenderungan kelebihan glikemia dan insulin.
Susu merupakan bahan pangan penting bagi anak. Selain mengandung protein, kalsium, riboflavin, vitamin A dan Zinc, susu berperan dalam menjadi alat transpor vitamin D dan zat besi. Konsumsi gula tambahan berlebih dapat mengancam kualitas gizi dari asupan makanan yaitu dengan memberikan energi berlebih tanpa diimbangi dengan kandungan nutrisi yang memadai.
“Pada anak usia pra sekolah, kelebihan gula kemungkinan dapat menurunkan kualitas belajar, membuat anak lebih aktif dan agresif. Menambahkan nutrisi yang seimbang dapat membantu meningkatkan kemampuan belajar dan memperbaiki perilaku,” jelas Dr Tjhin Wiguna, SpKJ(K), dokter spesialis kesehatan jiwa anak pada program edukasi Healthy Food For Healthy Kids, Sabtu (28/7/2012) di RS Pantai Indah Kapuk, Jakarta.
Suatu penelitian yang dilakukan oleh J Brand-Miller dan F.Atkinson dari University of Sidney, NSW Australia 2011 dengan judul Added Carbohydrates in Children’s Milk Products Increase Dietary Glyacemic Load yang dilakukan terhadap 7 jenis produk susu pertumbuhan anak menemukan bahwa produk yang memiliki kandungan gula tambahan memiliki GI yang lebih tinggi yakni mulai dari 55-69 sementara yang termasuk dalam kategori rendah GI adalah 55.
World Health Organization (WHO) telah merekomendasikan bahwa asupan gula tambahan tidak melebihi 10% dari total energi yang dikonsumsi untuk menghindari kelebihan energi dalam tubuh anak. 10% sama nilainya 4-5 sendok teh untuk anak usia 1-3 tahun dan 5-8 sendok teh untuk anak usia 3 tahun ke atas.



F.    Faktor yang Mempengaruhi Proses Belajar dan Hasil Belajar

 

1.      Faktor Lingkungan

Dalam lingkunganlah anak didik hidup dan berinteraksi dalam mata rantai kehidupan yang di sebut Ekosistem. Dua lingkungan yang pengaruh cukup signifikan terhadap belajar anak didik di sekolah :

a.       Lingkungan Alami

• Pencemaran lingkungan hidup merupakan mala petaka bagi anak didik yang hidup di dalamnya.

b.      Lingkungan Sosial Budaya

• Lingkungan social budaya di luar sekolah ternyata sisi kehidupan yang mendatangkan problem sendiri bagi kehidupan anak didik di sekolah. Pembangunan gedung sekolah yang tak jauh dari hiruk pikuk lalu lintas menimbulkan kegaduhan suasana kelas.

2.      Faktor Intrumental

Setiap sekolah mempunyai tujuan yang akan di capai. Tujuan tentu saja pada tingkat kelembagaan,. Agar dapat mencapai ke arah itu di perlukan seperangkat kelengkapan dalam berbagai bentuk dan jenisny. Sarana dan fasilitas yang tersedia harus di manfaatkan sebaik-baik agar berdaya guna dan berhasil guna bagi kemajuan belajar anak didik di sekolah:

• Kurikulum
• Program
• Sarana dan fasilitas
• Guru
• Kondisi Psikologis


3.      Kondisi Fisikologis

Kondisi psikologis pada umumnya sangat berpengaruh terhadap kemampuan belajar seseorang. Orang yang dalam keadaan segarjasmaninya, akan berlainan belajarnya dari orang yang dalam keadaan kelelahan.

4.      Kondisi psikologis

Emua keadaan dan fungsi psikologis tentu saja mempengaruhio belajar seseorang. Berarti belajar bukanklah berdiri sendiri, terlepas dari factor lain seperti factor luar dan factor dari dalam. Factor psikologis sdebagai factor dari dalam tentu saja merupakan hal yang utama dalam menentukan intensitas belajar seorang anak.

Minat, kecerdasan, bakat, motivasi, dan kemampuan-kemampuan kognitif adalah factor-faktor psikologisyang utama mempengaruhiproses dan hasil belajar anak didik.

a.       Minat
• Menurut slameto (1991 : 182), adalah suatu rasa lebih suka dan rasa ketertarikan pada suatu hal atau aktivitas, tanpa ada yang menyuruh minat pada dasarnya adalah penerimaan akan suatu hubungan antara diri sendir dengan suatu di luar dir. Semakin kuat atau dekat hubungan tersebut semakin besar minat.

b.      Kecerdasan
• Raden cahaya prabu (1986) perna mengatakan dalam mottonya bahwa :” Didiklah anak sesuai taraf umurnya, Pendidikan yang berhasilkarena menyelami jiwa anak didikny”. Yang menarik dari ungkapan ini adalah tentang umur dan menyelami jiwa anak didik.

c.       Bakat
• Bakat merupakan faktoryang besar pengruhnya terhadap proses dan hasil belajar seseorang. Hampir tidak ada yang membantah , bahwa belajar pada bidang yang sesai dengan bakat memperbesar kemungkinan berhasilnya usaha itu.



d.      Motivasi
• Menurut Noehi Nasution (1993 : 8 ) motivasi adalah kondisi psikologis yang mendorong seseorang untuk melakukan sesuatu. Jadi motivasi untuk belajar adalah kondisisi psikologis yang mendorong seorang untuk belajar. Penemuan – penemuan penelitian menunjukan bahwa hasil belajar pada umumnya meningkat jika motivasi untuk belajar bertambah.

e.       Kemampuan Kognitif
• Dimana orang menyadari bahwa pengetahuannya berasal dari masa lampau atau atau berdasarkan kesempatan yang diperoleh di masa lampau.

G.  Mencegah Anak Makan Manis Tidak Harus dengan Melarang


Sejak kita masih kecil memang sudah sedemikian terbiasa dengan yang manis-manis, secara alami bayi akan suka dengan makanan dan minuman yang manis dan tanpa sadar hal tersebut seakan menjadi “senjata” bagi orang tua agar anak tidak rewel. Mari kita ambil contoh, kalo anak menangis, maka ibu akan mengambil botol susu yang ditambah dengan gula (padahal susu yang beredar di pasaran rata-rata sudah ditambah dengan gula) parahnya lagi ada yang memang mengisi botol tersebut dengan air gula. Kemudian kalo bayi tidak mau tidur atau susah tidur maka kembali senjata ampuh dikeluarkan.
Dua contoh sederhana ini akan berdampak luar biasa, gula dari gula pasir yang biasanya ditambahkan akan memiliki akibat yang kurang baik bila berlebihan diberikan bahkan ketika usia dini yang dikatakan sedang masa pertumbuhan, memang benar masa pertumbuhan tapi yang dibutuhkan lebih pada nutrisi yang seimbang dan rasional. Dampak yang paling cepat terlihat adalah yang mempengaruhi gigi geligi anak, gigi menjadi keropos dan rusak sebelum waktunya tanggal. Ironisnya kebanyakan orang tua beranggapan bahwa gigi anak yang keropos wajar-wajar saja kan masih anak-anak dan nanti juga ada gantinya. Dampak lainnya adalah terjadinya gangguan penyerapan nutrisi dan memudahkan timbulnya gas di lambung. Kalo sudah demikian masihkah orang tua akan menganggap gula amat sangat penting untuk selalu diberikan?
Bagaimana kalau memang dilarang memberikan gula pasir ke anak? Sekali lagi bahwa bukan dilarang, bagaimanapun juga gula adalah salah satu sumber energi yang dibutuhkan untuk aktivitas anak-anak namun perlu lebih bijaksana dalam memberikannya. Mungkin sedari awal dicoba untuk memberikan jenis makanan yang beraneka ragam mulai dari jenis dan rasa, dengan demikian maka anak akan memiliki pengalaman yang lebih banyak tentang rasa dan tidak akan tergantung pada rasa manis semata. Kebiasaan memberikan asupan dengan kandungan gula berlebih akan memicu masalah di kemudian hari seperti penyakit diabetes mellitus tipe 2 dan tekanan darah tinggi. Anak-anak yang memang pada dasarnya memiliki kecenderungan yang besar terhadap makanan manis akan merasa terdukung dengan kebiasaan makan yang manis-manis.
Bagaimana kalau ternyata sudah melakukan usaha pembatasan tapi kendala muncul dari anak yang sangat obsesif terhadap makanan yang manis-manis? Jangan menyerah, mari kita coba selami pikiran anak tersebut, bisa jadi pembatasan yang kita lakukan ternyata malah semakin membuat anak semakin terobsesi. Anak-anak adalah pribadi yang unik, pada usia tersebut anak-anak mulai menunjukkan eksistensi dirinya, salah satunya dengan meninggikan egonya, hasilnya adalah semakin dilarang akan semakin keras usaha anak untuk mendapatkan apa yang dia inginkan.
Sebagai orang tua yang cerdas tentu saja hal ini akan menjadi tantangan tersendiri, percayalah masih ada jalan yang harus dicoba dan dilakukan. Bagaimana kalau kita beri saja yang dia minta? apa ini sama dengan menyerah? Jawabannya bisa ya bisa juga tidak. Ya karena kita menyerah dengan cara-cara otoriter, Tidak karena kita hanya sekedar mengubah taktik untuk sedikit berkomunikasi dengan pikiran si anak.
Pernahkah anda mendengar bahwa kata-kata negatif seperti “tidak” dan “jangan” akan diartikan berbeda oleh pikiran bawah sadar kita? Meskipun tujuannya positif tetap akan berdampak sebaliknya oleh bawah sadar seseorang. Juli Triharto, seorang pakar hipnoterapi mengatakan dalam bukunya Hypnolangsing, bahwa lebih baik menggunakan kata-kata yang tidak mengandung unsur negatif agar tidak mengubah tujuan awal yang semula bertujuan positif.
Kalau menggunakan kata-kata yang positif lalu bagaimana sebaiknya? Apakah bisa kita bilang ya makan saja tidak apa-apa lalu kita biarkan saja demikian? Tentu tidak, kita sebaiknya menggunakan prinsip tell-show-do, anak harus diajak bicara pelan-pelan (tell) tentang manfaat dan akibat yang ditimbulkan oleh makanan yang terlalu manis. Meskipun masih anak-anak mereka juga mampu untuk berpikir dan mengolah suatu ide. Katakan pada anak anda silakan makan, tidak apa-apa makan cokelat, permen asal sikat giginya yang rajin, hobi kumur-kumur setelah makan terutama makan yang manis-manis dan kenalkan mereka tentang makanan-makanan lainnya yang anda berikan. Semakin mereka paham apa yang anda berikan maka semakin mudah mereka menerimanya, semakin beragam jenis makanan yang mereka makan maka semakin berkurang ketergantungan mereka terhadap makanan manis.
Langkah selanjutnya adalah contoh nyata dari orang tua (show), tidak akan mungkin si anak akan melakukan sesuatu yang seharusnya dilakukan kalau orang tua tidak melakukannya juga, hal ini berarti sebagai orang tua juga berubah secara nyata di depan anak-anak. Yang terakhir adalah lakukan (do) dengan konsisten dan kurangi efek paksaan dan kata-kata berunsur negatif.
Langkah sederhana yang efektif, hubungan orang tua juga akan semakin dekat, orang tua tidak akan menjadi seseorang yang ditakuti bahkan akan lebih menjadi “teman” mereka, silakan mencoba semoga berhasil.

 

















BAB IV

KESIMPULAN


Gula yang memiliki rasa manis sangat disukai oleh  anak-anak. Namun di balik rasa manisnya banyak tersimpan dampak negatif jika mengkonsumsi gula secara berlebih, antara lain menyebabkan obesitas, di mana obesitas dapat memicu munculnya kolesterol dan penyakit jantung bahkan pada tingkat  yang lebih bahaya yaitu diabetes. Bahaya lain dari mengkonsumsi gula berlebih pada anak adalah,  menyebabkan hiperaktif, kecemasan, sulit berkonsentrasi dan mudah tersinggung. Pada anak usia pra sekolah, kelebihan gula kemungkinan dapat menurunkan kualitas belajar, membuat anak lebih aktif dan agresif. Untuk anak usia 1-3 tahun, 10 persen sama nilainya dengan 4-5 sendok teh gula. Sedangkan untuk anak usia 4-6 tahun, 10 persen sama artinya dengan 5-8 sendok teh gula.
Produk susu yang mengandung gula tambahan dapat meningkatkan kepadatan energi, mengurangi nilai gizi susu dan kecenderungan kelebihan glikemia dan insulin. Susu merupakan bahan pangan penting bagi anak, yang mengandung protein, kalsium, riboflavin, vitamin A dan Zinc. WHO telah merekomendasikan bahwa asupan gula tambahan tidak melebihi 10% dari total energi yang dikonsumsi untuk menghindari kelebihan energi dalam tubuh anak. Batas ambangnya adalah 4-5 sendok teh untuk anak usia 1-3 tahun dan 5-8 sendok teh untuk anak usia 3 tahun ke atas.










DAFTAR PUSTAKA



http://dentafiesta.blogspot.com/2010/09/mencegah-anak-makan-manis-tidak-harus.html
http://dianpelita.wordpress.com/2011/02/21/teori-teori-dan-proses-belajar/
http://health.okezone.com/read/2012/07/28/483/669906/bahaya-gula-tambahan-dalam-susu-anak
http://majalahsiantar.blogspot.com/2012/06/faktor-yang-mempengaruhi-proses-belajar.html

Republika.co.id

Tidak ada komentar:

Posting Komentar